"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Category: gens de voyage

✈ Prague, Jewel in The Crown!

Before i left for Berlin, i got words that there is a train from Berlin to Prague. It takes only four hours with a breathtaking scenery along the way. If I’m lucky and willing to look for, I can get a very cheap ticket promo. After several months in Berlin, finally i had free times and yes, i was lucky enough to get the 35 Euro return tickets.

At Hlavní Nádrazí, the main station, I immediately knew that I had fallen in love at first sight with that city. The local language sounded very sexy to me. I was more happy when i walked around. It got increasingly high in my top cities. So much beauty concentrated on every hill top, along any street, in every building, on every wall, in every brick of a wall. So much history kept on that surface, and even if everything is old, is still new, clean, in refreshed colors. It’s perfection – felt in every detail – and there are details everywhere. It’s like every architect, every building maker had a sense of beauty, and they tried to place everything in a special way, that complete the whole image. [Národní, the national museum]

[Sherlock Holmes disguised as an old man]

[The dancing building]

[Vlatava river]

[Karluv Most/Charles bridge]

[The story of St. John Nepomuk. I touched it! Hopefully i can go back there]

[Cool cars]

[That famous long and steep escalator. Gosh, it scared me like hell!]

[That famous astrological clock and Swarovski store]

[Malá Strana]

[Castle with its own cathedral and wonderful city view from up there]

[Museum of torture]

[Kafka museum and Shakespeare bookstore. I was drowning in both places.]

[Last ammunition and money!]

For me it was only three and a half wonderful days, hurting feet and eyes washed with beauty if i am allowed to express like that. And pictures can’t reveal the whole beauty of it, not even the half of it… And it can’t give you the feeling you get walking on those streets, or hills.
P.S: important words that must be learned: “Milujem Ťa laska moja”. It means “I love you, my dear.” I will definitely visit you again ♡

Dingle Dingle Doo!

Jennifer Echols said, “You’ve gone far away to a place with no horses and very little grass, and you’re studying how to write a story with a happy ending. If you can write that ending for yourself, maybe you can come back.”

I almost realizing the quote above. Life has indeed been arranged by God, but we can write and determine our own way of life. Although it has been given facilities like that, I sometimes still confused and helpless. Often feel like an end to all the stories in my life because I don’t know how to fill in the conflict in every chapter. Perhaps due to this life is too conflicted, or perhaps as a result I have no desire to continue it.

Sadly, I don’t live alone in this world. Inevitably I still have to obey what is desired by those closest ones, keep myself alive. In tough times like that I chose to do a total escape. That’s the way that I can still continue the story and hoping for a happy ending.

And few days ago, again I did the ritual with three of my friends: Rukii Naraya, Febrina and Amanda. We spontaneously drove to a beautiful place with no horses and very little grass, we call it the Island of Hopes. The place where we can momentarily forget that tiring routines with beers, books and music. Yes, we did it like pro!

Everything looks beautiful with natural colors. But if everything isn’t black and white, i say, “why the hell not?”. After all this life was just about black and white, good and bad. In point of fact, all can still look beautiful.

[Amanda]

[Febrina]

[Rukii Naraya]

[Me]

That wasn’t our last refuge. Someday, we will continue our adventure to seek wonderful places to get a happy ending and never tired of it.

:: Courtesy pictures by me and Rukii Naraya ::

The picturesque flower market

Eid atmosphere still feels very strong these days.  The smell of cakes still wafted in every house in the neighborhood. It’s always been a tradition to visit my grandma and grandpa in Pekalongan, a small town famous for its batik and harbors. Before the first day of Eid, there’re always an impromptu flower market near grandma’s house. That morning, I woke up very early (I rarely get up before half past six in the morning)  in order to get the best pictures of the still-fresh flowers. The colorful flowers would be very wasteful if not perpetuated. The most exciting thing from this little town, almost everyone knew each other. I was grateful that some people at that flower market were still recognizing me so well. The fresh air  made me more eager to capture every exciting moments. Please take a look for the results 🙂

[The colorful flower market. Such in heaven]

[Mas Dafi and Raia. Golden cute!]

Anyway, happy belated Eid Mubarak, fellas! May we always be blessed by the god of happiness ❤

Ekspedisi Pulau Tak Berpenghuni

Sekitar tiga minggu yang lalu saya mengunjungi saudara di Surabaya. Kebetulan, badan saya juga sudah mulai gatel-gatel ingin traveling. Sampai di Surabaya, saudara saya memberi ide untuk menghabiskan akhir minggu di Batu, Malang. Saya setuju saja. Apa lagi, kuliner Malang cukup membuat saya berliur saat membayangkannya. Tapi saya tambahkan usulan lagi, sudah jauh-jauh ke Jawa Timur pasti akan rugi kalau ngga mengunjungi Pulau Sempu di Malang Selatan. Dengan persiapan yang sangat minim, kami memutuskan untuk ekspedisi ke pulau tak berpenghuni itu.

Dari pusat kota Malang, saya menempuh perjalanan selama 3 jam ke pantai Sendang Biru dengan kendaraan pribadi. Perjalanan menuju pantai Sendang Biru cukup berat karena medan yang ditempuh naik-turun dan berkelok-kelok. Jalanan ke Sendang Biru seperti bukan jalanan menuju pantai, tapi kita seolah akan berekreasi ke gunung. Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan karena dipenuhi canda-tawa, sampailah saya di pantai Sendang Biru yang saat itu cukup ramai.

pantai Sendang Biru

Sendang Biru memang cukup ramai, tapi menurut salah satu penjaga pantai, pulau Sempu yang berada di seberang Sendang Biru sangat sepi. Untuk bisa mencapai pulau Sempu, saya harus melapor kepada polisi hutan terlebih dahulu. Saya diwajibkan mengisi formulir data dan membayar 20 ribu. Setelah mendapat ijin, saya akhirnya menyewa perahu mesin seharga 100 ribu antar-jemput. Perjalanan menuju pulau Sempu dengan perahu mesin ditempuh selama kurang lebih 15 menit. Saya diturunkan di bibir pulau Sempu yang berupa hutan bakau. Medan cukup berat karena dasar air dipenuhi karang dan akar. Selesai melewati hutan bakau, saya harus menempuh hutan balantara dalam pulau yang luar biasa ekstrem. Hutan sangat becek dan naik-turun. Sangat berat! Menurut beberapa orang dan pengalaman teman-teman yang telah lebih dulu mengunjungi pulau Sempu, mereka bisa menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 5 jam untuk mencapai segara Anakan. Ada juga yang sampai lebih dari 8 jam, atau bahkan menyerah karena tersesat dan memilih untuk kembali lagi ke pantai Sendang Biru.

menuju Segara Anakan

Dua jam saja saya menempuh medan berat penuh lumpur dan akar liar, akhirnya saya sampai di Segara Anakan! Seketika saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah dan ajaib. Pantai landai di dalam pulau yang serasa milik pribadi.

Segara Anakan

Tapi perjalanan ngga cukup sampai di situ saja. Kalau mau tau kenapa bisa ada segara di dalam pulau, kita harus naik bukit karang terjal terlebih dahulu, barulah terlihat semua dari atas. Ternyata Pulau Sempu adalah pulau yang dikelilingi karang. Salah satu bagian karang berlubang terkena abrasi. Alhasil, air laut lepas pantai selatan yang bergejolak masuk ke dalam pulau dan membentuk segara dengan air yang tenang.

proses terbentuknya Segara Anakan

Dari atas bukit karang yang terjal, kita juga bisa melihat laut lepas pantai selatan yang luar biasa dahsyat!

laut lepas Pantai Selatan

Pemandangan Segara Anakan dari atas bukit karang tak kalah nikmat untuk dipandangi. Kalau mau leha-leha di pasir atau berenang juga boleh banget.

Segara Anakan dari atas bukit karang

Puas berenang dan berjemur, akhirnya saya harus pulang karena perahu terakhir akan menjemput jam 5 sore. Saat itu agak mendung, semua pengujung pulau (yg cuma beberapa orang saja) dilarang camping di dalam pulau. Ombak pasang akan memenuhi segara dan tak menyisakan space sama sekali untuk camping. Bahaya!
Saya kira perjalanan pulang akan lebih ringan. Ternyataaa, lebih parah! Medan lebih terjal dan samping kiri adalah jurang ke segara.

jalan terjal saat pulang

Walau perjalanan pulang luar biasa menyiksa, saya tetap harus melanjutkan perjalanan karena tidak mau merasakan gelap di dalam pulau. Pasti ngeri banget gelap-gelapan di dalam hutan belantara yang masih banyak ular dan monyet liarnya.
Jadi untuk kalian yang akan mengunjungi Pulau Sempu, saran saya: datang pagi sekali, pakai baju senyaman mungkin, bawa baju ganti, dan bawa minum yg banyak. Ngga akan ada warung atau bangunan apa pun di dalam pulau. Kalau kita kekurangan dan membutuhkan apa pun, jangan harap bisa kalian temukan di dalam pulau.
Jadi, happy treasuring fellas!

Hey Ho Let’s Go to Ramones Museum!

Last week, in the middle of a cold winter, I decided to pay a visit Ramones Museum with some of my friends.

HEY HO LET’S GO!!!

The Ramones Museum, which is the first and only museum in the world to be solely dedicated to the legendary punk band, was started by a die-hard fan, Florian Hayler. Hayler allegedly attended nothing short of 101 Ramones concerts and after realizing that his home was overflowing with Ramones memorabilia, he decided to get serious and open a museum to house his collection. It finally debuted in 2005, a year after the death of founding band member Johnny Ramone.

But the current museum in Berlin opened in October 2008 after a move and an expansion. While one might think that New York would be a more appropriate setting for this collection, Hayler reminds visitors that Dee Dee Ramone, the songwriter and bassist of the band who died in 2002, spent a significant part of his childhood in Berlin prompting him to later write songs like “Born to Die in Berlin” and “It’s a Long Way Back to Germany.”

Regardless of location, the collection is impressive and expansive, including over 300 posters, gig setlists, shirts, and photographs, as well as Johnny and Joey Ramone’s childhood photographs, early fliers and a history of the Ramones emblem.

If you bop ‘til you drop, the Ramones Museum’s Café Mania has drinks, snacks and light meals on offer. The museum, located just off Oranienburger Strasse near art house Tacheles and the New Synagogue, also hosts movie screenings, acoustic shows, and Ramones-related special events.

Me and my friends were very lucky. Lots of music buff gathered there to listen the very fresh EP from Social Distortion. Well, lets go buuuurrrnnnn that fouckin’ epic place!!!

Superb night in Berlin.

Berlin, 7 Januari 2011

Semalam saya ke Pergamon Museum yang konon, kata teman saya, kalau hari kamis malam gratis masuk. Sampai di Pergamon, antrian panjang sekali. Saya coba bertehan di antrian. Setelah hampir mendekati kasir, saya curiga. Semua orang seperti buka-buka dompet dan menyerahkan uang ke kasir. Saat giliran saya sampai kasir, saya menanyakan perihal tiket gratis ke si ibu-ibu kasir Jerman yang luar biasa ‘tegas’. Dan ternyata sudah ngga gratis! Dia bilang sejak oktober bulan lalu pengurus Pergamon meniadakan tiket gratis karena satu dan lain hal, yang tidak disebutkan alasan jelasnya. Tiket masuk Pergamon 10 Euro, dan saya pas banget cuma bawa 10 Euro. Mungkin kalian bingung kenapa saya pergi cuma bawa 10 Euro? Pertama, awalnya saya pikir Pergamon gratis. Kedua, Kalau pun setelah dari Pergamon saya mau makan, harga makanan pasti tidak akan lebih dari 10 Euro. Ketiga, minggu lalu saya kecopetan dompet, jadi sekarang kalau pergi saya suka parno! Hahaha. Akhirnya, terpaksa saya harus menunda kunjungan masuk Pergamon. Lagi pula, saya ngga akan puas bayar 10 Euro tapi ngga bisa liat semua koleksi karena cuma buka sampai jam 10. Mending saya atur waktu lagi, kapan saya bisa ke Pergamon dari pagi. Saya akan bayar 10 Euro tapi puas karena bisa lihat semua koleksi di Pergamon yang luar biasa banyak. Lalu saya memutuskan untuk mampir makan di stasiun Friedrichstraße. For your info, stasiun di sini seperti mall. Jadi jangan bayangin saya makan di warteg atau warung indomie seperti kebiasaan saya di Indonesia ya.

Ini dia resto 'Fish and Chips' di dalam stasiun Friedriechstraße.

Setelah kenyang makan fish and chips di Friedrich, saya bingung mau kemana lagi. Mau pulang rasanya nanggung. Baru juga jam delapanan. Akhirnya saya jalan-jalan ngga jelas. Karena jalan-jalan ngga jelas malah bikin galau (winter gini banyak org kissing di pinggir jalan bikin iri dengki), akhirnya saya nekat ke Potsdamer Platz. Potsdamer Platz itu agak jauh. Tapi konon di sana ada resto Indonesia-Phillipine yg sering didatengin anak-anak Indonesia, namanya Mabuhay. Saya kepikiran ke sana karena memang penasaran sama tempatnya dan siapa tau saya nambah teman. Maklum, anak baru jadi masih butuh teman sebanyak-banyaknya. Well, sebenernya Mabuhay itu tepatnya bukan di Potsdamer Platz, tapi di Möckern Brücke. Masih harus jalan agak jauh. Saya sempat nyasar. Setelah agak lama nyasar dan lewat jalanan sepi dan penuh graffiti (ky daerah gangster anak-anak punk), akhirnya ketemu juga Mabuhay-nya. Seriously, tempatnya nyempil di daerah bronx. Kanan kirinya ada asrama-asrama yang dipenuhi graffiti dan remang-remang. Tapi setelah masuk Mabuhay, you won’t regret. Buat anak-anak rantau, Mabuhay terasa “rumah” banget. Kokinya kakek Indo-Chinese yang gaul. Pas saya datang, ada sekelompok anak Jerman sedang karaokean.

Ini layar karaokenya. Indonesia sekali, bukan? Gambar bapak-bapak manjat pohon kelapa! Hahaha.

Pelayannya anak muda semi punk tapi sopan. Dia dan si kakek koki ramah banget menyambut saya. Setelah lumayan lama cengar-cengir sambil ngebir Beck’s Green Lemon, tiba-tiba yang punya Mabuhay datang!

Beck's Green Lemon. One of fave 🙂

Ternyata yang punya beneran orang Indonesia dan masih muda, namanya Rudy. Berhubung saya anak Indonesia (baca: anak ilang), dia ngajak ngobrol deh. Dia mempersilakan saya mampir ke rumahnya, yang ternyata di atas Mabuhay. Dan, WAH! Keren banget! Ternyata dia arsitek. Sayang saya gengsi ambil foto ruangannya. Hahaha. Si Rudy ini baik. Dia ngajak ngobrol tentang segala hal sampai ngga terasa sudah jam setengah satu pagi. Rudi kasih saya bekal buah kiwi banyak sekali. Hahaha. Karena malam itu hujan dan jalanan mulai licin, saya jadi jalan pelan-pelan. Akibatnya, sampai stasiun kereta sudah habis! Dan dimulailah petualangan saya. Seperti yang saya bilang tadi, stasiun di sini itu besar dan jalurnya banyak. Sebenernya masih ada kereta, tapi saya ragu apakah itu yang ke arah saya pulang atau bukan. Pas lagi bingung-bingungnya, datanglah tiga anak muda (yang juga celingukan). Saya tanya tentang kereta terakhir ke Friedrich, ternyata mereka juga ngga tau! Awalnya saya ajak ngomong bahasa Jerman (belepotan), eh mereka makin bingung. Ternyata mereka juga bukan orang Jerman. Dank! Bahasa Inggris lah yang akhirnya menyelamatkan kami. Mereka baru 5 jam berada di Berlin dan juga ketinggalan kereta. Kami pasrah dan malah ngobrol. Mereka adalah seorang perempuan dari Belarus bernama Sviatlana dan sepasang kekasih dari Yunani bernama Airlia dan Leander.

Lovely Leander, Airlia and Sviatlana.

Kami ngobrol lama di stasiun yg sudah ngga ada siapa-siapa. Mereka cerita tentang liburan dan negara masing-masing. Mereka juga menunjukkan foto-foto perjalanan mereka. Tadinya kami berencana menunggu di stasiun sampai subuh, sampai kereta pertama datang. Tapi tiba-tiba, ada petugas kereta menghampiri kami. Petugas itu memberi info kalau akan ada kereta menuju Bernau. Sebenarnya kereta itu ngga boleh ditumpangi karena untuk exchange. Tapi dia mempersilakan kami naik! Kereta ke Bernau itu juga lewat Friedrich. Kalau pulang ke rumah, artinya saya masih hrs naik kereta lagi dari Friedriech. Pertanyaannya, setelah saya sampai Friedriech, apakah kereta ke arah rumah saya masih ada? Tapi lumayan lah, kalau pun saya harus terdampar, saya terdampar di Friedriech tangah kota. Sampai Friedrich, saya harus berpisah dengan Leander, Airlia dan Sviatlana. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Ostkruez, sementara saya ke Wedding. Di Friedrich, saya lari-lari ke jalur U6 karena katanya U6 ada sampai lewat tengah malam. Sampai di jalur, tertera bahwa kereta masih ada! Senang tapi heran juga. Setelah nunggu lama, saya mulai curiga. Lalu ada kakek-kakek petugas kebersihan mendatangi saya. Dia memberi tau bahawa layar infonya eror dan kereta ternyata sudah ngga ada. Mendengar kenyataan pahit itu, apa yang akhirnya saya lakukan? Yep, saya malah ajak ngobrol kakek petugas kebersihan itu. Hahaha. Dia cerita kalau dia sudah puluhan tahun menghabiskan hidupnya di stasiun. Dan dimulailah adegan drama. Dia bilang hidupnya begitu saja dari dulu. Tapi dia selalu bersyukur. Kakek itu selalu bercerita dengan tersenyum. Yang lucu, setelah sekitar 30 menit ngobrol, dia baru ingat bahwa sebenarnya masih ada bus ke arah Wedding. Dia minta maaf karena lupa. Sambil bercanda, saya bilang, pasti dia sengaja lupa karena mau ngobrol sama saya. Eh, si kakek tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata! Entah, saat dia tertawa hingga keluar air mata, saya merasa momen itu priceless sekali! Dia bilang dia happy bisa ngobrol sama saya walau sebentar. Saya sempat ingin nangis waktu dia bilang itu. Saya bisa merasakan betapa kesepiannya dia karena selalu menghabiskan waktu di dalam stasiun. Kalian boleh menganggap saya queen of drama deh, tapi saat dia bilang dia happy ke saya, saya terharu. Mungkin saya cuma sebentar ketemu dia, tapi saya bisa bikin dia tertawa. Menurut saya, tertawa terbahak-bahak adalah salah satu hal yang paling susah didapat dalam hidup. Mungkin dia biasa dengan mudah tertawa ringan, tapi andai kalian lihat ekspresi kakek itu saat tertawa hingga keluar air mata, kalian akan tahu bahwa hal itu sudah lama tidak dia lakukan. Sayangnya, dengan kondisi seperti itu (terbawa suasana dan jadi mellow), saya ngga enak minta dia foto. Tapi sekarang saya menyesal ngga punya foto dia. Tapi saya janji, kalau saya lewat Friedrich lagi, saya akan cari dia! Serius! Mau saya bawakan butter croissant sebagai tanda persahabatan. Kakek baik hati itu akhirnya mengantarkan saya ke halte bus. Lalu dia pamit masuk stasiun lagi, hendak bekerja. Saya ngga berhenti-berhenti bilang terima kasih. Di halte bus, ternyata tertulis kalau bus terakhir datang sekitar setengah jam lagi dan ke Hauptbahnhof. Bingung. Tapi saya nekat tetap nunggu. Saya ingat, kata teman saya Wedding sebenarnya ngga terlalu jauh dari Hauptbahnhof. Berbekal kata-kata teman itu, saya berpikiran untuk jalan kaki dr Hauptbahnhof ke Wedding. Saat bengong-bengong bego nunggu bus, datang seorang perempuan asia yang keliatannya juga mau menunggu bus. Lagi-lagi saya bertindak sok akrab. Saya ajak ngobrol lagi, deh. Hahaha. Ternyata si mba itu orang Korea. Dia ikut pertukaran pelajar. Katanya, sudah cukup lama dia tinggal di sini. Jd sudah faham jalur-jalur transportasi. Dia bilang, dia juga mau pulang ke arah Alt-Tegel. Itu artinya searah sama saya. Tuh kan, ada untungnya kan saya sok kenal. Good bye jalan kaki. Dari Hauptbahnhof, ternyata ada bus yang nyambung ke arah Alt-Tegel. Dengan cengar-cengir saya ikutin si mba aja naik bus. Cari aman. Kami ngga bilang akan turun di halte mana. Hanya bilang kalau sama-sama ke arah Alt-Tegel. Ternyata eh ternyata, sampai di Wedding, dia ikut turun. Pas ngobrol sambil jalan, dia tanya saya tinggal di jalan apa. Dan dia kaget mendengar jawaban saya. Ternyata kami bertetangga! Hahaha. Perjalanan dari halte ke rumah kami agak horor. Sepi. Dan tiba-tiba ada orang mabuk yang ngeliatin kami ngga santai. Kami pun bergandengan saling melindungi. Lagi-lagi mungkin kalian menganggap saya berlebihan, tapi bener deh, di sini saat kalian bertemu dengan perempuan sebaya yang sama-sama dari asia, kalian akan berasa senasib! Hahaha. Karena kami bergandengan dan memasang tampang datar, akhirnya kami selamat dari teror orang mabuk itu. Oh ya, nama mba itu kalau ngga salah Jun Hyun. Jujur saya agak lupa nama lengkapnya. Soalnya aksen dia agak aneh jadi saya suka ribet dengernya. Hehehe.

Mba Jun Hyun baik hati.

Akhirnya kami sampai rumah masing-masing yang benar-benar belakang-belakangan. Mba Jun Hyun sempat menasihati saya, jangan suka pulang larut malam sendirian. Berlin sangat berbahaya. Huuuff, beneran deh, malam panajang sekali! Petualangan yang sangat berharga. Kejadian-kejadian spontan seperti ini yang bikin saya bahagia. Saya tegaskan lagi: b.a.h.a.g.i.a. Having such a simple adventure and making friends spontaneously. This is the real happiness for me. You won’t know how happy i am.

the evening ‘thing’…

THANK GOD
every day ENDS with an evening.

i just step into another shelter
AS THE NIGHT FALLS JUST PERFECTLY.

the smell of a hard day comes out strongly.

i enjoy it anyway.
many faces light up the evening.
local music plays LOUDLY
along with the BEAT of laughter.

THERE IS NO WINE BUT THICK STEAMY TEA IN SIMPLE CUPS.

some people say that
THE EVENING IS A SIGN TO REST.
YET OTHERS JUST DON’T BELIEVE IT.

they expect the sun to go down rapidly to be changed by darkness so they can pain it with
THOUSANDS OF LIGHTS ALONG THE STREET.

IT’S A HEARTBEAT.
IT’S A HARD LIFE. IT’S A HARD DEAL.

IS IT A HOPE?

..But wait..

Evening.. Starts with the three in one thing.
Evening.. Starts when they come back from work and dried their brain out, it looks like bunch of cold popcorn in a plastic bag.
Evening.. Its when they played some rerun shows that has been out like decades ago.

I could go on.. And on..

But evening.. ITS WHEN AM AWAKE..

Cos for me, and i believe others like me, THAT’S WHEN THE DAY STARTED.

Not when the sun rise, but when the sun down.

You go with the roman empire calender that follows the sun and was blessed with this kinky psycho who thoughts he ruled the world named ‘Caesar’??!! Find by me..

I go with the moon. Blessed by the wolves in the wilderness of truth.
So yes..                                   IT IS A HOPE.

Inspired by a photo journal ‘Seeing The Unseen’ by Amrin Nugraha and a conversation with Alex Abbad

Little City with Big Smiles

People may not know about this little city, or they just don’t recognize it. In fact, it gives a lot of inspiration. Beautiful panorama and friendly locals. What else?

BREBES, CENTRAL JAVA 2010