"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Month: July, 2011

cinta yang mati di ibu kota

Ternyata sesuatu yang buruk bisa juga membuat rindu.

Ini bukan tulisan serius gue. Ini curhatan. Mungkin buat lo ngga penting, tapi gue rasa gue harus ngungkapin ini semua.

Apa sih yang lo harapkan dari hidup yang sumpek dan berantakan? Apa yang lo harapkan dari hubungan sosial yang penuh kepalsuan?

Bertahun-tahun pertayaan semacam itu selalu memenuhi pikiran gue. Pertanyaan yang selalu muncul saat gue ngerasa muak tinggal di ibu kota. Jakarta dan Berlin. Well, rumah gue memang bukan di Jakarta, but I spent most of my time there. Gue juga belum lama tinggal di Berlin, but what you hate the most could be something you mostly care about, no?

Dua tempat itu musuh besar buat gue. Jakarta itu rajanya palsu! Rajanya bikin capek dan naik darah. Semua bisa jadi baik karena kepentingan. Musuh lo bisa jadi temen lo kalau dia ada maunya. Lo juga bisa bebas dari tilangan polisi lalu lintas brengsek kalau lo bisa bayar gede. Tai kucing! Kalau ada orang yang bilang Jakarta lebih kejam dari pembunuh bayaran, itu bener! Udah puas gue ngeliat orang-orang yang sok jadi mafia berantem sampe ancurin mobil kaya di film-film. Kalau langsung dibunuh sih mending, kalau mobil mewah lo diancurin cuma karena saingan? Men, sakitnya ngga abis-abis! Udah puas juga gue ngerasa dilecehin sama oknum yang ngaku berpendidikan tapi sebenernya pathetic, cuma karena ngeliat gaya gue yang cuek dan ngga hormat ke dia. Udah puas juga ngabisin lebih dari setengah hari gue macet-macetan di jalanan. Jakarta emang paling jago bikin drama. Konfliknya pelik banget!

Berlin juga ngga kalah sih nyebelinnya. Beberapa kali gue dilecehin sama orang-orang yang masih rasis. Dipeluk sembarangan di tengah jalan, dilirik sinis, sampe dianggep pelacur juga pernah. Itu semua gue alami karena gue perempuan asia. Orang asli Jerman menganggap gue perempuan asing yang ngga ada bedanya sama orang Turki pengganggu kesejahteraan hidup mereka. Sementara orang-orang Turkinya menganggap gue pesaing mereka. Posisi gue serba salah lah pokoknya. And it sucks! Gue pernah loh sampe nonjok cowo di jalan saking sebelnya diremehin terus.

Tapi kaya kalimat awal gue di tulisan ini: ternyata sesuatu yang buruk bisa membuat rindu.

Gue tiba-tiba kangen kehidupan yang rusuh dan berantakan di Jakarta. Gue kangen persaingan yang ekstrem. Kangen ngetawain temen yang lagi mabok. Kangen ngebut tengah malem di Sudirman pas ujan gede sambil denger minor songs. Kangen cabut kuliah dan nongkrong di kantin sambil ngobrolin freemason. Kangen berantem sama temen gara-gara hal sepele. Kangen nangkring di Oenpao Kemang menjelang pagi karena café yang lain udah pada tutup. Kangen ngebir di pinggir danau sambil curhat sampe nangis. Kangen bikin rusuh di acara-acara musik bareng temen-temen.

Dan sekarang, rasanya gue masih mau menikmati jalan sendirian subuh-subuh di daerah Mitte, Berlin. Masih mau naik S-Bahn Ring ngelilingin Berlin tanpa tujuan. Masih mau hidup ngirit. Masih mau diajak nonton acara musik murahan di rumah bekas kebakaran di Berlin Timur. Masih mau sarapan McD dan minum Beck’s lemon di Alexa atau Friedrich. Masih mau sedih-sedihan kangen ini-itu sambil duduk di Gendamenmarkt. Masih mau jalan kaki sambil ngerokok kemana pun kaki gue mau ngelangkah. Gue masih mau menikmati itu semua.

Ternyata ngga segampang itu nerima tawaran ketenangan yah? Ibu kota, dengan segala problematikanya, ngasih gue banyak banget pelajaran dan pengalaman. Bersyukurlah kalian yang sempat merasakan tinggal di ibu kota, di mana pun negaranya. Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan selagi kalian masih tinggal di ibu kota. Selami seluk-beluk tiap sudutnya. Jalanan, temen, kampus, rumah, kantor, mall, café, club, kolong jembatan, musuh, bahkan hati. Selami selagi bisa! Dan apa yang lo rasa salah, buruk, nyusahin, ternyata masih punya sisi yang patut untuk lo kenang dengan baik..

Ekspedisi Pulau Tak Berpenghuni

Sekitar tiga minggu yang lalu saya mengunjungi saudara di Surabaya. Kebetulan, badan saya juga sudah mulai gatel-gatel ingin traveling. Sampai di Surabaya, saudara saya memberi ide untuk menghabiskan akhir minggu di Batu, Malang. Saya setuju saja. Apa lagi, kuliner Malang cukup membuat saya berliur saat membayangkannya. Tapi saya tambahkan usulan lagi, sudah jauh-jauh ke Jawa Timur pasti akan rugi kalau ngga mengunjungi Pulau Sempu di Malang Selatan. Dengan persiapan yang sangat minim, kami memutuskan untuk ekspedisi ke pulau tak berpenghuni itu.

Dari pusat kota Malang, saya menempuh perjalanan selama 3 jam ke pantai Sendang Biru dengan kendaraan pribadi. Perjalanan menuju pantai Sendang Biru cukup berat karena medan yang ditempuh naik-turun dan berkelok-kelok. Jalanan ke Sendang Biru seperti bukan jalanan menuju pantai, tapi kita seolah akan berekreasi ke gunung. Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan karena dipenuhi canda-tawa, sampailah saya di pantai Sendang Biru yang saat itu cukup ramai.

pantai Sendang Biru

Sendang Biru memang cukup ramai, tapi menurut salah satu penjaga pantai, pulau Sempu yang berada di seberang Sendang Biru sangat sepi. Untuk bisa mencapai pulau Sempu, saya harus melapor kepada polisi hutan terlebih dahulu. Saya diwajibkan mengisi formulir data dan membayar 20 ribu. Setelah mendapat ijin, saya akhirnya menyewa perahu mesin seharga 100 ribu antar-jemput. Perjalanan menuju pulau Sempu dengan perahu mesin ditempuh selama kurang lebih 15 menit. Saya diturunkan di bibir pulau Sempu yang berupa hutan bakau. Medan cukup berat karena dasar air dipenuhi karang dan akar. Selesai melewati hutan bakau, saya harus menempuh hutan balantara dalam pulau yang luar biasa ekstrem. Hutan sangat becek dan naik-turun. Sangat berat! Menurut beberapa orang dan pengalaman teman-teman yang telah lebih dulu mengunjungi pulau Sempu, mereka bisa menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 5 jam untuk mencapai segara Anakan. Ada juga yang sampai lebih dari 8 jam, atau bahkan menyerah karena tersesat dan memilih untuk kembali lagi ke pantai Sendang Biru.

menuju Segara Anakan

Dua jam saja saya menempuh medan berat penuh lumpur dan akar liar, akhirnya saya sampai di Segara Anakan! Seketika saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah dan ajaib. Pantai landai di dalam pulau yang serasa milik pribadi.

Segara Anakan

Tapi perjalanan ngga cukup sampai di situ saja. Kalau mau tau kenapa bisa ada segara di dalam pulau, kita harus naik bukit karang terjal terlebih dahulu, barulah terlihat semua dari atas. Ternyata Pulau Sempu adalah pulau yang dikelilingi karang. Salah satu bagian karang berlubang terkena abrasi. Alhasil, air laut lepas pantai selatan yang bergejolak masuk ke dalam pulau dan membentuk segara dengan air yang tenang.

proses terbentuknya Segara Anakan

Dari atas bukit karang yang terjal, kita juga bisa melihat laut lepas pantai selatan yang luar biasa dahsyat!

laut lepas Pantai Selatan

Pemandangan Segara Anakan dari atas bukit karang tak kalah nikmat untuk dipandangi. Kalau mau leha-leha di pasir atau berenang juga boleh banget.

Segara Anakan dari atas bukit karang

Puas berenang dan berjemur, akhirnya saya harus pulang karena perahu terakhir akan menjemput jam 5 sore. Saat itu agak mendung, semua pengujung pulau (yg cuma beberapa orang saja) dilarang camping di dalam pulau. Ombak pasang akan memenuhi segara dan tak menyisakan space sama sekali untuk camping. Bahaya!
Saya kira perjalanan pulang akan lebih ringan. Ternyataaa, lebih parah! Medan lebih terjal dan samping kiri adalah jurang ke segara.

jalan terjal saat pulang

Walau perjalanan pulang luar biasa menyiksa, saya tetap harus melanjutkan perjalanan karena tidak mau merasakan gelap di dalam pulau. Pasti ngeri banget gelap-gelapan di dalam hutan belantara yang masih banyak ular dan monyet liarnya.
Jadi untuk kalian yang akan mengunjungi Pulau Sempu, saran saya: datang pagi sekali, pakai baju senyaman mungkin, bawa baju ganti, dan bawa minum yg banyak. Ngga akan ada warung atau bangunan apa pun di dalam pulau. Kalau kita kekurangan dan membutuhkan apa pun, jangan harap bisa kalian temukan di dalam pulau.
Jadi, happy treasuring fellas!

:: आप ::

Pada malam di kotak sempit biru beku,
aku mendamba tengkurap di ceruk cemas cangkangmu.

Kau yang tak kutemu lagi pada siapa entah,
ingin kusesapi selubung relungmu
sampai hilang gelisah.

Hujan kecup di tiap sudut,
mencipta degup yang tak kunjung surut.

Kau rengkuh aku lebih kencang
sampai tak ada ruang.
Kau tumbuhkan kelindan rindu
yang tak padam-padam.

Kau yang mencipta bebulir air
dalam debur yang mulai kendur.
Kau hibur dengan sigap
kesiur magma yang mulai lindap.

Kau bahagia yang lupa pada selubung duka.
Kau bawa aku ingsut
dari girut-girut singup malam berkabut.

Tak akan lengah kunikmati lenguh lembab nafasmu.
Tak akan puas kuregup degup dalam dekapmu.