"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Month: January, 2011

Missing the old times.

Beberapa waktu belakangan ini, saya selalu bertanya-tanya, umur berapa sih manusia mulai ngga lagi mikirin hura-hura? Umur berapa sih manusia harusnya ngga bergantung lagi sama sahabat? Saat saya posting pertanyaan itu di twitter, hampir semua jawaban sama: Ngga ada batasan umur! Semua orang sampai kapan pun butuh dua hal itu. Hmm, bener sih. Tapi kadang kita ngga sadar, seiring bertambahnya umur, kita semakin menjadi makhluk yang bener-bener individual. Iya lah, tiap orang kan akan menjalani fase hidupnya sendiri-sendiri. Semakin dewasa, kita akan ketemu lebih banyak orang. Punya kesibukan masing-masing. Itu juga yang sekarang sedang saya alami. Saya lagi ngerasa kalau teman-teman saya makin berkurang. Bukan karena musuhan, tapi karena kami mulai sibuk sama urusan duniawi. Hahaha. Sedih kadang, kalau inget kami jarang bisa kumpul lagi. Apa lagi sama temen-temen kampus sastra yang tingkahnya suka ajaib. Jujur, saya ngga becus masalah kuliah. Alesan saya betah ada di kampus ya cuma karena temen-temen saya. Ada aja tingkah yang selalu bikin ketawa ngakak. Ngga percaya? Nih buktinya!

Kami suka kumpul dukung jurusan dan fakultas pas tanding bola atau futsal. Menang atau engga, yang penting pendukungnya rusuh! Semakin rusuh, biasanya semakin keliatan kalau kami bener-bener kompak. Yang paling seru sih kalau dukung fakultas, dan ternyata menang! Asli, kami bener-bener konvoi keliling Universitas! Rusuh kaya mau ngajak tawuran fakultas lain.

Di kelas pun, sebelum dosen dateng, masih sempet-sempetnya berkelakuan anarkis, gila dan ngga tau malu! Hahaha.

Jangankan ngga ada dosen, ada dosen aja masih sempet-sempetnya jail. Dosen lagi pose ngga enak aja pake difoto dan disebar-sebarin fotonya. Akhirnya foto di bawah ini sampe ke tangan banyak orang.

Ajaibnya ngga cukup sampe situ aja. Kalau kami lagi ngga ada jam pelajaran, NAH! Dimulailah kerusuhan-kerusuhan yang kadang ngga masuk akal. Kami juga suka niat banget bawa properti dari rumah untuk ngadain sesi pemotretan. Lokasi yang kami pilih juga pastinya ngga standart. Bisa aja di tengah kantin yang lagi banyak banget orang, kami foto-foto pake properti tanpa rasa malu sedikit pun. Di lapangan pas ada pertandingan, di taman pinggir mushola pas orang-orang lagi sholat, sampe di taman depan gedung tata usaha.

Sekarang kayanya udah ngga mungkin untuk ngalamin hal-hal kaya gitu lagi. Yah, tapi saya ngarepnya sih tetep akan bisa ketemu mereka lagi dan ngelakuin hal yang sama gilanya. Mungkin nanti, entah kapan, kami semua bisa kumpul sama-sama lagi. Bercanda lagi, bikin sesi foto lagi, dan mempermalukan diri di depan umum lagi. Hahaha. That was so much fun! Thanks for being parts of my life. I do really miss our old times guys. And i do really love you all!!!

Berlin Foodism part.1

Hey!

Terimakasih udah mampir di blog saya lagi. Sekarang saya udah satu setengah bulan tinggal di Berlin.  Udah muterin hampir semua wisata sejarah dan museum-museum yang ada di sini. Udah tau juga tempat nongkrong yang asik, dan pastinya tempat makan yang oke punya. Saya akan me-review beberapa tempat makan, siapa tau di antara kalian ada yang tinggal di Berlin juga atau ada rencana liburan ke sini. Nah, mudah-mudahan tulisan saya ini bisa jadi panduan kuliner kalian. Kali ini, saya ngga akan me-review tempat makan yang mewah-mewah aja. Yang tempatnya sederhana tapi punya rasa yang lezat juga saya masukin. Hmm, sebenernya ini penghiburan buat diri saya sendiri aja sih. Maklum, anak rantau, ngga tiap hari bisa makan mewah. Hahaha.

Oke, saya mulai dari masakan Jepang. Ada sebuah restoran Jepang bernama Ishin. Sebenernya ada beberapa Ishin di Berlin, tapi yang paling mudah dijangkau yaitu Ishin yang di Mittelstraße, antara U-Bahn Friedrichstrße dan Unter den Linden. Tempatnya lumayan enak dan pelayanannya cepat. Begitu kita dating, mereka akan langsung kasih Ocha atau teh Jepang for free. Nah, setiap ke Ishin, saya punya menu andalan. Untuk menu pembuka, saya suka pesen Tsuna-Maki, yaitu sushi roll dengan ikan tuna. Sementara untuk main menunya, saya paling suka Sake-Kaisou Cey-Ro. Itu adalah nasi uang dengan lauk finely chopped fried salmon. Nggaa cuma salmon aja, didalam mangkuk bamboo itu, mereka juga menambahkan rumput laut, jamur dan irisan batang teratai yang luar biasa enak! Ngga perlu bayar mahal juga, karena untuk satu Tsuna-Maki dibandrol 3 Euro dan Sake-Kaisou Cey-Ro hanya 4,50 Euro. Serius, puas banget makan di Ishin! 😀

http://www.ishin.de/index.html

Yang berikutnya kita beralih ke masakan Itali. Di Berlin ada resto Itali yang terkenal, namanya Vapiano.  Well, sebenernya Vapiano ini resto yang terkenal banget. Udah ada di beberapa kota besar seluruh dunia. Di Berlin aja ada 3. Tapi saya sengaja dating ke Vapiano yang di Potsdamer Platz karena tempatnya paling enak. Yang lucu dari Vapiano adalah all fresh! Kalau mau makan, kita harus antri di tiap booth makanan yang akan kita pesan. Ada booth pasta, salad, cake, baverages, dan lain-lain. Misalnya kita pesan pasta, semua bahan yang digunakan untuk memasak menu yang kita pilih langsung dipetik dari potnya! Dan tentu kita bisa liat proses masaknya. Lucu banget, deh! Salah satu menu yang paling di sukai di Vapiano apa lagi kalau bukan Spaghetti Bolognese. Untuk harga, mereka masih wajar kok membandrol makanannya. Berbagai macam pasta mereka tawarkan mulai dari 7 sampai 10 Euro, tergantung sausnya. Harga segitu sangat pantas kalau lihat konsep dan pelayanan yang mereka berikan.

http://www.vapiano.com/

Kita lanjut ke makanan yang berasal dari Britania Raya, yaitu Fish and Chips. Perpaduan antara ikan Cod yang dilumuri tepung dan kentang goreng banyak saya temui di sudut-sudut kota Berlin. Tapi salah satu yang bikin saya pengen mampir terus yaitu resto bernama Fish&Chips di dalam stasiun Friedrichstraße. Pilihan-pilihan sausnya sangat menggoda. Kalau saya ke sana, saya selalu minta dua macam saus. Yang utama adalah garlic-mayo yang sangat gurih dan saus sambal pedas. Menu Fish and Chips di resto ini sedikit berbeda rupa dengan yang biasa kita jumpai. Bentuk ikannya tidak pipih tapi bulat-bulat. Jadi kita tidak perlu repot memotong-motong lagi. Cukup ditusuk, celupkan ke saus, dan langsung makan. Untuk seporsi Fish and Chips mereka hargai hanya 3,50 Euro! Murah, kan? 🙂

Masih belum puas, kan? Sekarang giliran masakan Asia, khususnya China, Thailand dan India. Resto ini namanya Asia Quick. Tempatnya di Seestraße, hanya beberapa meter dari gedung Alhambra. Dari namanya aja udah ketauan, kita ngga bisa lama-lama nongkrong di situ karena tempatnya kecil. Sementara itu, pengunjungnya lumayan banyak. Semua menu di tempat makan ini enak-enak! Serius dan ngga bohong, nih! Yang jadi idola di sini sih nasi gorengnya. Tapi kemarin saya sempet nyobain Nasi Ayam Kari-nya, dan ternyata dahsyat! Seporsi besar menu itu hanya dihargai 3,50 Euro. Setiap laper dan pengen makan kalap, saya selalu lari ke tempat itu. Hahaha

Yang terakhir adalah makanan khas Turki, yaitu Halbes Hähnchen. Menu ini banyak di jual dimana-mana juga. Tapi menurut temen saya, yang paling enak dan spicy ya yang kemarin saya cobain, yaitu di pojokan Potsdamerstraße. Kalo kalian lagi luar biasa laper, menu ini pas banget! Setengah badan ayam panggang disajikan dengan kentang goreng. Kalau saya sih kemarin ngga habis sendirian. Masih sisa setengah! Hahaha. Bener-bener ngga sanggup saya menghabiskan satu porsi sendirian. Untuk satu porsinya mereka bandrol 4,80 Euro. Yah, ngga terlalu sayang lah kalau terpaksa harus buang setengah porsinya 🙂

Jadi, silakan dicoba kalau kalian mampir ke Berlin. Dan tugas saya tetep jalan lagi berburu surga makanan 😀

Hey Ho Let’s Go to Ramones Museum!

Last week, in the middle of a cold winter, I decided to pay a visit Ramones Museum with some of my friends.

HEY HO LET’S GO!!!

The Ramones Museum, which is the first and only museum in the world to be solely dedicated to the legendary punk band, was started by a die-hard fan, Florian Hayler. Hayler allegedly attended nothing short of 101 Ramones concerts and after realizing that his home was overflowing with Ramones memorabilia, he decided to get serious and open a museum to house his collection. It finally debuted in 2005, a year after the death of founding band member Johnny Ramone.

But the current museum in Berlin opened in October 2008 after a move and an expansion. While one might think that New York would be a more appropriate setting for this collection, Hayler reminds visitors that Dee Dee Ramone, the songwriter and bassist of the band who died in 2002, spent a significant part of his childhood in Berlin prompting him to later write songs like “Born to Die in Berlin” and “It’s a Long Way Back to Germany.”

Regardless of location, the collection is impressive and expansive, including over 300 posters, gig setlists, shirts, and photographs, as well as Johnny and Joey Ramone’s childhood photographs, early fliers and a history of the Ramones emblem.

If you bop ‘til you drop, the Ramones Museum’s Café Mania has drinks, snacks and light meals on offer. The museum, located just off Oranienburger Strasse near art house Tacheles and the New Synagogue, also hosts movie screenings, acoustic shows, and Ramones-related special events.

Me and my friends were very lucky. Lots of music buff gathered there to listen the very fresh EP from Social Distortion. Well, lets go buuuurrrnnnn that fouckin’ epic place!!!

Fantastic Photographers of The Whole World!

*GREGORY CREWDSON

Gregory Crewdson adalah seorang fotografer Amerika yang terkenal dengan tahapan-tahapan pengerjaan foto yang rumit. Semua foto yang ia hasilkan harus malalui tahapan berat karena banyak menangkap adegan surealis kehidupan dan lingkungan masyarakat Amerika.

Saat remaja, ia menjadi bagian dari kelompok musik punk rock bernama ‘The Speedies’ yang sempat melejit di New York dan menjual habis  albumnya.  Salah satu lagu yang menjadi hits mereka adalah ‘Let Me Take Your Photo’  yang kemudian terbukti berhubungan dengan pekerjaan Crewdson di kemudian hari. Pada tahun 2005, Hewlett Packard menggunakan lagu tersebut dalam iklan untuk mempromosikan kamera digitalnya.

Pada pertengahan 1980, Crewdson belajar fotografi di SUNY Purchase, Port Chester, New York. Crewdson menerima gelar Master of Fine Arts dari Yale University. Sampai saat ini, dia telah mengajar sebagai profesor di beberapa tempat seperti Sarah Lawrence, Cooper Union, Vassar College dan Yale.

Menurut Crewdson, ada dua hal penting yang harus diperhatikan saat ia bekerja mengambil gambar. Salah satunya adalah pemilihan lokasi. Artinya, dia berhadapan dengan aktualitas, lingkungan nyata dan alam. Kemudian, hal berikutnya adalah soundstage, yang bisa membangun seluruh gambar dengan cita rasa tersendiri.

Dalam pengerjaan gambar-gambarnya, Crewdson biasanya memilih satu lokasi secara total, dalam artian bahwa dia juga harus bekerja sama dengan masyarakat setempat. Ia meminta masyarakat setempat untuk bersedia difoto saat sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Tak hanya itu, ia juga harus bekerja sama dengan kepolisian, pemadam kebakaran hingga walikota. Semua itu harus ia lukakan karena terkadang ia memiliki imajinasi di luar realita sehari-hari. Contohnya, Crewdson menginginkan adegan kebakaran atau bencana alam yang mengharuskannya membuat set seperti asli.

Ia menciptakan konstruksi-konstruksi foto yang sangat impresif dari daerah suburbia Amerika, di mana keindahan dan keanehan dapat menyatu dalam sebuah harmoni yang sempurna. Sebagian karya-karyanya terinspirasi oleh film-film Amerika dan pelukis Barroque Tenebrist seperti Rembrandt. Crewdson juga cenderung menunjukkan sisi protagonis yang kaku dan dipenuhi kekacauan, namun tetap indah dipandang. Seluruh karyanya sangat layak untuk dilihat.

Crewdson mengaku, meskipun tingkat produksi sangat besar, proses awal selalu dimulai dari dirinya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Justru itulah yang menurutnya menjadi pusat dari semua ide yang ia dapatkan.

*HEDI SLIMANE

Hedi Slimane adalah perancang busana yang lahir pada 5 Juli 1968 di Paris. Ia belajar Sejarah Seni di Ecole du Louvre, namun juga mengambil sekolah menjahit. Dari 1992 hingga 1995, Slimane bekerja untuk Jean-Jacques Picart, terutama untuk pameran seratus tahun label Louis Vuitton’s Monogramme.

Pierre Bergé menunjuknya sebagai Direktur Koleksi dan seni untuk Yves Saint Laurent pada tahun 1997, dan mereka meluncurkan kembali YSL Rive Gauche Homme. Pada 1999, ia diundang untuk membuat labelnya sendiri dalam Gucci Group. Ia juga diundang untuk bergabung dengan Prada Group untuk merancang label Jil Sander. Namun, Slimane lebih memilih untuk bekerja di Christian Dior, di mana ia menjadi desainer kreatif untuk pakaian pria dan merancang untuk Dior Homme pada tahun 2000. Tahun itu pula, Dewan Fashion Designers of America memberinya penghargaan sebagai The Best International Designer. Sementara itu, tahun 2003, ia diangkat sebagai direktur kreatif untuk parfum Christian Dior men’s fragrance, termasuk Eau Noire, Cologne Blanche, Bois d’Argent, Homme Dior, dan Dior Homme Intense.

Setelah sekian banyak penghargaan yang ia dapatkan, pada  Juli 2007, Slimane memutuskan untuk meninggalkan Dior. Dalam upaya untuk meyakinkannya agar tetap bergabung, perusahaan induk Dior, LVMH, menawarkan untuk membiayai seluruh label pribadinya. Negosiasi berlangsung enam setengah bulan, dan ia tetap menolak bergabung. Slimane menyatakan lewat situs pribadinya bahwa ia tak mau kehilangan kebebasan berkreasi dengan menjual namanya atau menyerahkan kontrol kepada pihak lain.

Slimane memiliki latar belakang dalam dunia furniture design, store design dan fotografi. Selain bekerja sebagai perancang busana, ia juga merancang sejumlah cover album sejumlah artis seperti Phoenix dan Daft Punk. Pada 2004, Ia meluncurkan “Stage”, koleksi fotografi musisi rock. Ia telah menerbitkan beberapa buku fotografi dan berkontribusi untuk sejumlah majalah fashion, termasuk “Vanity Fair”. Ia juga memiliki banyak koneksi dengan artis-artis indie-rock asal Inggris. Ia bersahabat dengan penyanyi kontroversial Pete Doherty dan Amy Winehouse. Akibat ketertarikannya pada indie-rock, otomatis hal tersebut sangat berpengaruh terhadap cita rasa fotografinya. Sebagian besar karya-karyanya sangat “berbau” rebellion dan mulai diadopsi secara luas oleh dunia.  Salah satu karya terbarunya yang sempat menghebohkan dunia adalah cover album Lady Gaga: The Fame Monster.

 

Allison Mosshart for Hedi Slimane

Courtney Love for Hedi Slimane

Kate Moss for Hedi Slimane

Lindsay Lohan for Hedi Slimane

Pete Doherty for Hedi Slimane

Robert Pattinson for Hedi Slimane

Stephen Dorff for Hedi Slimane

Natalia Vodiavona for Hedi Slimane

Josh Beech for Hedi Slimane

Jethro Cave for Hedi Slimane

Heidi Mount for Hedi Slimane

Ann and Kirby Kenny for Hedi Slimane

Superb night in Berlin.

Berlin, 7 Januari 2011

Semalam saya ke Pergamon Museum yang konon, kata teman saya, kalau hari kamis malam gratis masuk. Sampai di Pergamon, antrian panjang sekali. Saya coba bertehan di antrian. Setelah hampir mendekati kasir, saya curiga. Semua orang seperti buka-buka dompet dan menyerahkan uang ke kasir. Saat giliran saya sampai kasir, saya menanyakan perihal tiket gratis ke si ibu-ibu kasir Jerman yang luar biasa ‘tegas’. Dan ternyata sudah ngga gratis! Dia bilang sejak oktober bulan lalu pengurus Pergamon meniadakan tiket gratis karena satu dan lain hal, yang tidak disebutkan alasan jelasnya. Tiket masuk Pergamon 10 Euro, dan saya pas banget cuma bawa 10 Euro. Mungkin kalian bingung kenapa saya pergi cuma bawa 10 Euro? Pertama, awalnya saya pikir Pergamon gratis. Kedua, Kalau pun setelah dari Pergamon saya mau makan, harga makanan pasti tidak akan lebih dari 10 Euro. Ketiga, minggu lalu saya kecopetan dompet, jadi sekarang kalau pergi saya suka parno! Hahaha. Akhirnya, terpaksa saya harus menunda kunjungan masuk Pergamon. Lagi pula, saya ngga akan puas bayar 10 Euro tapi ngga bisa liat semua koleksi karena cuma buka sampai jam 10. Mending saya atur waktu lagi, kapan saya bisa ke Pergamon dari pagi. Saya akan bayar 10 Euro tapi puas karena bisa lihat semua koleksi di Pergamon yang luar biasa banyak. Lalu saya memutuskan untuk mampir makan di stasiun Friedrichstraße. For your info, stasiun di sini seperti mall. Jadi jangan bayangin saya makan di warteg atau warung indomie seperti kebiasaan saya di Indonesia ya.

Ini dia resto 'Fish and Chips' di dalam stasiun Friedriechstraße.

Setelah kenyang makan fish and chips di Friedrich, saya bingung mau kemana lagi. Mau pulang rasanya nanggung. Baru juga jam delapanan. Akhirnya saya jalan-jalan ngga jelas. Karena jalan-jalan ngga jelas malah bikin galau (winter gini banyak org kissing di pinggir jalan bikin iri dengki), akhirnya saya nekat ke Potsdamer Platz. Potsdamer Platz itu agak jauh. Tapi konon di sana ada resto Indonesia-Phillipine yg sering didatengin anak-anak Indonesia, namanya Mabuhay. Saya kepikiran ke sana karena memang penasaran sama tempatnya dan siapa tau saya nambah teman. Maklum, anak baru jadi masih butuh teman sebanyak-banyaknya. Well, sebenernya Mabuhay itu tepatnya bukan di Potsdamer Platz, tapi di Möckern Brücke. Masih harus jalan agak jauh. Saya sempat nyasar. Setelah agak lama nyasar dan lewat jalanan sepi dan penuh graffiti (ky daerah gangster anak-anak punk), akhirnya ketemu juga Mabuhay-nya. Seriously, tempatnya nyempil di daerah bronx. Kanan kirinya ada asrama-asrama yang dipenuhi graffiti dan remang-remang. Tapi setelah masuk Mabuhay, you won’t regret. Buat anak-anak rantau, Mabuhay terasa “rumah” banget. Kokinya kakek Indo-Chinese yang gaul. Pas saya datang, ada sekelompok anak Jerman sedang karaokean.

Ini layar karaokenya. Indonesia sekali, bukan? Gambar bapak-bapak manjat pohon kelapa! Hahaha.

Pelayannya anak muda semi punk tapi sopan. Dia dan si kakek koki ramah banget menyambut saya. Setelah lumayan lama cengar-cengir sambil ngebir Beck’s Green Lemon, tiba-tiba yang punya Mabuhay datang!

Beck's Green Lemon. One of fave 🙂

Ternyata yang punya beneran orang Indonesia dan masih muda, namanya Rudy. Berhubung saya anak Indonesia (baca: anak ilang), dia ngajak ngobrol deh. Dia mempersilakan saya mampir ke rumahnya, yang ternyata di atas Mabuhay. Dan, WAH! Keren banget! Ternyata dia arsitek. Sayang saya gengsi ambil foto ruangannya. Hahaha. Si Rudy ini baik. Dia ngajak ngobrol tentang segala hal sampai ngga terasa sudah jam setengah satu pagi. Rudi kasih saya bekal buah kiwi banyak sekali. Hahaha. Karena malam itu hujan dan jalanan mulai licin, saya jadi jalan pelan-pelan. Akibatnya, sampai stasiun kereta sudah habis! Dan dimulailah petualangan saya. Seperti yang saya bilang tadi, stasiun di sini itu besar dan jalurnya banyak. Sebenernya masih ada kereta, tapi saya ragu apakah itu yang ke arah saya pulang atau bukan. Pas lagi bingung-bingungnya, datanglah tiga anak muda (yang juga celingukan). Saya tanya tentang kereta terakhir ke Friedrich, ternyata mereka juga ngga tau! Awalnya saya ajak ngomong bahasa Jerman (belepotan), eh mereka makin bingung. Ternyata mereka juga bukan orang Jerman. Dank! Bahasa Inggris lah yang akhirnya menyelamatkan kami. Mereka baru 5 jam berada di Berlin dan juga ketinggalan kereta. Kami pasrah dan malah ngobrol. Mereka adalah seorang perempuan dari Belarus bernama Sviatlana dan sepasang kekasih dari Yunani bernama Airlia dan Leander.

Lovely Leander, Airlia and Sviatlana.

Kami ngobrol lama di stasiun yg sudah ngga ada siapa-siapa. Mereka cerita tentang liburan dan negara masing-masing. Mereka juga menunjukkan foto-foto perjalanan mereka. Tadinya kami berencana menunggu di stasiun sampai subuh, sampai kereta pertama datang. Tapi tiba-tiba, ada petugas kereta menghampiri kami. Petugas itu memberi info kalau akan ada kereta menuju Bernau. Sebenarnya kereta itu ngga boleh ditumpangi karena untuk exchange. Tapi dia mempersilakan kami naik! Kereta ke Bernau itu juga lewat Friedrich. Kalau pulang ke rumah, artinya saya masih hrs naik kereta lagi dari Friedriech. Pertanyaannya, setelah saya sampai Friedriech, apakah kereta ke arah rumah saya masih ada? Tapi lumayan lah, kalau pun saya harus terdampar, saya terdampar di Friedriech tangah kota. Sampai Friedrich, saya harus berpisah dengan Leander, Airlia dan Sviatlana. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Ostkruez, sementara saya ke Wedding. Di Friedrich, saya lari-lari ke jalur U6 karena katanya U6 ada sampai lewat tengah malam. Sampai di jalur, tertera bahwa kereta masih ada! Senang tapi heran juga. Setelah nunggu lama, saya mulai curiga. Lalu ada kakek-kakek petugas kebersihan mendatangi saya. Dia memberi tau bahawa layar infonya eror dan kereta ternyata sudah ngga ada. Mendengar kenyataan pahit itu, apa yang akhirnya saya lakukan? Yep, saya malah ajak ngobrol kakek petugas kebersihan itu. Hahaha. Dia cerita kalau dia sudah puluhan tahun menghabiskan hidupnya di stasiun. Dan dimulailah adegan drama. Dia bilang hidupnya begitu saja dari dulu. Tapi dia selalu bersyukur. Kakek itu selalu bercerita dengan tersenyum. Yang lucu, setelah sekitar 30 menit ngobrol, dia baru ingat bahwa sebenarnya masih ada bus ke arah Wedding. Dia minta maaf karena lupa. Sambil bercanda, saya bilang, pasti dia sengaja lupa karena mau ngobrol sama saya. Eh, si kakek tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata! Entah, saat dia tertawa hingga keluar air mata, saya merasa momen itu priceless sekali! Dia bilang dia happy bisa ngobrol sama saya walau sebentar. Saya sempat ingin nangis waktu dia bilang itu. Saya bisa merasakan betapa kesepiannya dia karena selalu menghabiskan waktu di dalam stasiun. Kalian boleh menganggap saya queen of drama deh, tapi saat dia bilang dia happy ke saya, saya terharu. Mungkin saya cuma sebentar ketemu dia, tapi saya bisa bikin dia tertawa. Menurut saya, tertawa terbahak-bahak adalah salah satu hal yang paling susah didapat dalam hidup. Mungkin dia biasa dengan mudah tertawa ringan, tapi andai kalian lihat ekspresi kakek itu saat tertawa hingga keluar air mata, kalian akan tahu bahwa hal itu sudah lama tidak dia lakukan. Sayangnya, dengan kondisi seperti itu (terbawa suasana dan jadi mellow), saya ngga enak minta dia foto. Tapi sekarang saya menyesal ngga punya foto dia. Tapi saya janji, kalau saya lewat Friedrich lagi, saya akan cari dia! Serius! Mau saya bawakan butter croissant sebagai tanda persahabatan. Kakek baik hati itu akhirnya mengantarkan saya ke halte bus. Lalu dia pamit masuk stasiun lagi, hendak bekerja. Saya ngga berhenti-berhenti bilang terima kasih. Di halte bus, ternyata tertulis kalau bus terakhir datang sekitar setengah jam lagi dan ke Hauptbahnhof. Bingung. Tapi saya nekat tetap nunggu. Saya ingat, kata teman saya Wedding sebenarnya ngga terlalu jauh dari Hauptbahnhof. Berbekal kata-kata teman itu, saya berpikiran untuk jalan kaki dr Hauptbahnhof ke Wedding. Saat bengong-bengong bego nunggu bus, datang seorang perempuan asia yang keliatannya juga mau menunggu bus. Lagi-lagi saya bertindak sok akrab. Saya ajak ngobrol lagi, deh. Hahaha. Ternyata si mba itu orang Korea. Dia ikut pertukaran pelajar. Katanya, sudah cukup lama dia tinggal di sini. Jd sudah faham jalur-jalur transportasi. Dia bilang, dia juga mau pulang ke arah Alt-Tegel. Itu artinya searah sama saya. Tuh kan, ada untungnya kan saya sok kenal. Good bye jalan kaki. Dari Hauptbahnhof, ternyata ada bus yang nyambung ke arah Alt-Tegel. Dengan cengar-cengir saya ikutin si mba aja naik bus. Cari aman. Kami ngga bilang akan turun di halte mana. Hanya bilang kalau sama-sama ke arah Alt-Tegel. Ternyata eh ternyata, sampai di Wedding, dia ikut turun. Pas ngobrol sambil jalan, dia tanya saya tinggal di jalan apa. Dan dia kaget mendengar jawaban saya. Ternyata kami bertetangga! Hahaha. Perjalanan dari halte ke rumah kami agak horor. Sepi. Dan tiba-tiba ada orang mabuk yang ngeliatin kami ngga santai. Kami pun bergandengan saling melindungi. Lagi-lagi mungkin kalian menganggap saya berlebihan, tapi bener deh, di sini saat kalian bertemu dengan perempuan sebaya yang sama-sama dari asia, kalian akan berasa senasib! Hahaha. Karena kami bergandengan dan memasang tampang datar, akhirnya kami selamat dari teror orang mabuk itu. Oh ya, nama mba itu kalau ngga salah Jun Hyun. Jujur saya agak lupa nama lengkapnya. Soalnya aksen dia agak aneh jadi saya suka ribet dengernya. Hehehe.

Mba Jun Hyun baik hati.

Akhirnya kami sampai rumah masing-masing yang benar-benar belakang-belakangan. Mba Jun Hyun sempat menasihati saya, jangan suka pulang larut malam sendirian. Berlin sangat berbahaya. Huuuff, beneran deh, malam panajang sekali! Petualangan yang sangat berharga. Kejadian-kejadian spontan seperti ini yang bikin saya bahagia. Saya tegaskan lagi: b.a.h.a.g.i.a. Having such a simple adventure and making friends spontaneously. This is the real happiness for me. You won’t know how happy i am.