Disturbances in religion

Belakangan ini, saya sering memikirkan masalah agama. Entah, banyak sekali aturan-aturan dan kebiasaan dalam agama yang sangat menggangu.  Beberapa diantaranya, saya rasa, sudah tidak bisa ditolerir. Saya berasal dari keluarga muslim. Well, meski sampai sekarang saya masih merasa berat dengan konsep  perbedaan agama. Tapi sudah lah, kali ini saya tidak akan membahas masalah itu. Toh saya tetap menghargai siapa pun yang percaya dengan agama. Begini, hari ini, 16 November 2010, adalah Idul Adha bagi umat muslim Muhammadiyah. Besok barulah bagi penurut pemerintah. Terserah juga sih mau pilih yang mana, saya ngga begitu peduli. Poin yang ingin saya tekankan bukan masalah berbedaan tanggalnya. Yang ingin saya bahas adalah budaya pada hari Idul Adha-nya. Kita semua tahu, setiap Idul Adha, banyak sekali orang bersedekah dengan memotong hewan kurban. Bisa dibayangkan berapa banyak kambing, sapi dan unta yang disembelih hari ini dan besok. Saya tahu sekali sejarah agama dari perayaan Idul Adha ini. Idul Adha untuk mengenang peristiwa nabi Ibrahim yang menjadi peletak dasar monoteisme. Saya ngga menyalahkan kalau umat muslim ingin melaksanakan apa yang dulu pernah dilaksanakan nabinya. Tapi bukankah kegiatan beribadah ada yang bisa berubah seiring berkembangnya jaman? Bisa saja kan kurban hewan diganti dengan uang, misalnya? Kalau dulu nabi dan para sahabat berzakat fitrah dalam bentuk barang, tidak pernah berbentuk uang. Nah, sekarang orang-orang banyak sekali yang berzakat fitrah dengan uang. Zakat fitrah yang hukumnya wajib saja, boleh diganti aturannya. Kenapa kurban yang hukumnya sunnah ngga boleh? C’mon, it’s a primitive way to remember God. God is smarter than you thought. God doesn’t need lots of blood and animal sacrifices to be remembered. God only needs our trust. That’s all. Oh wait, and God even doesn’t need our trust. God is well-supplied. That’s why we call God Almighty. Saya ngga melarang orang yang mau sedekah hewan kurban. Saya hanya menganjurkan, kenapa tidak diganti dengan uang saja yang lebih fleksibel? Sehingga yang menerima sedekah uang itu bisa menggunakannya untuk kebutuhan yang lebih penting. Selain itu kan ngga harus ada pembantaian hewan besar-besaran kan? Ok, kurban hewan memang ada unsur “festival”. Orang-orang merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan, kemudian akrab dengan kegiatan makan-makan. Tapi inti kurban kan bukan makan-makan atau memberi makan. Intinya adalah tetap mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menyedekahkan sebagian dari harta kita. Kurban di sini artinya bukan memberi korban atau “sesembahan”, tetapi mendekatkan diri kepada sang pencipta. Setiap menjelang Idul Adha, banyak sekali saya tamui pedagang sapid an kambing di pinggir-pinggir jalan. Kadang tempatnya sangat tidak nyaman untuk hewan-hewan itu. Mobil dan motor terus berlalu lalang di depan mereka. Panas terik dan hujan juga tak bisa mereka hindari. Jika ada pembeli, hewan-hewan itu diangkut dengan mobil bak, dan mereka harus berdesak-desakan. Kadang mereka harus mengatur keseimbangan saat si sopir ngerem mendadak. Tidak sadarkah para pedagang hewan itu bahwa setiap makhluk hidup memiliki batasan psikologis? Hewan-hewan itu juga bisa mengalami stress dan merasa sedih. Bayangkan, mereka harus mengalami itu semua dan merasa sangat ketakutan bahwa dalam beberapa hari lagi, mereka akan disembelih beramai-ramai. Saya percaya, hewan-hewan itu memiliki bahasanya sendiri dan secara turun-menurun menyebarkan sejarah cerita pembantaian saat Idul Adha setiap tahunnya. Sungguh, saya bener-bener ngga tega. Saya bukannya munafik ya, saya juga makan daging. Well, I used to be a vegetarian. Meski sekarang saya makan daging, tapi bukan berarti saya setuju penyembelihan hewan besar-besaran. Yang wajar saja lah!

Ada satu poin lagi yang ingin saya bahas. Ini tak berhubungan dengan Idul Adha. Ini terinspirasi dari kisah pak mentri komunikasi dan informatika kita, Tifatul Sembiring. Dia memang sering sekali bikin sensasi dan menggegerkan dunia twitter ya. Dari masalah AIDS dan yang terakhir, masalah berjabat tangan dengan Michelle Obama. Selama ini, si Tiffy ini ngga pernah mau bersalaman dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Ia berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, yang memang menganjurkan seperti itu. Tapi saat istri presiden Barrack Obama mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dia menanggapinya. Alhasil, seorang wartawan yang bernama Uni Lubis langsung berkomentar di twitternya. Komentar Uni Lubis ternyata ditanggapi oleh si Tiffy. Seperti biasa, membela diri dengan bahasa guyonnya yang semrawut. Ia bilang seolah-olah saat itu ia terdesak dengan situasi. Michelle Obama menjulurkan tangan ke arah dia dengan agresif, sehingga ia ngga bisa menolaknya. Oh Lord, forgive him! Berita ini benar-benar sampai di media internasional. Banyak media cetak luar membahas masalah si Tiffy ini. How embarrassing! Nah, masalah berjabat tangan dengan non muhrim ini yang juga mengganggu saya. Ayolah, kenapa haram sih? Coba kasih saya jawaban logis untuk pertanyaan itu. Dengan diharamkannya berjabat tangan dengan non muhrim, itu memberi kesan melecehkan lho. Ngga cuma melecehkan perempuan, tapi laki-laki berpikiran waras juga. Memangnya perempuan menularkan virus mesum ke laki-laki? Memangnya laki-laki serendah itu, baru disentuh tangannya langsung terangsang? Don’t be so stupid! Si Tiffy berargumen, bahwa dalam acara kenegaraan, kejadian seperti itu kadang tak terhindarkan. Oke, dia boleh bersalaman dengan Michelle Obama. Lalu apa yang terjadi? Was he wanted to have sex with that women? Nobody knows, but as long as he didn’t experience premature ejaculation in front of many people. Buktinya, ngga terjadi apa-apa kan saat itu? Terus apa bedanya Michelle Obama dengan perempuan lain? Kalau sama Michelle saja bisa menahan diri, kenapa ngga sama perempuan-perempuan biasa lainnya? Aneh benar mentri satu itu. Saya pernah punya pengalaman ditolak saat mau bersalaman. Saai itu saya bertemu dengan teman lama. Memang saya lupa bahwa belakangan terdengar kabar bahwa dia bergabung dengan gangster yang mengatasnamakan agama. Karena sudah lama tak bertemu, maka saya menanyakan kabar. Dan sebagai tanda penghormatan, saya juga ingin menjabat tangannya. And he refused it. For the sake of heaven and earth, I feel abused! Saya malu setengah mati. Beberapa orang di sekitar saya melihat kejadian “penolakan” itu. Ngerti ngga sih, rasanya tuh seperti ngga dihormati! Saya marah betul saat itu, sampai akhirnya saya pamit dengan judesnya. Tanpa senyum! Terserah dia mau anggap saya perempuan jalang juga saya ngga peduli! Dia yang ngga ngerti nilai sosial dalam masyarakat! Please, Islam is not that primitive, lads! Tiada yang maha mengetahui selain Tuhan yang esa. Do your best for human beings and all living things. For better world. At the end, only God can judge all our good deeds. Be logical and rational!

Hayo, lho! Sumringah banget, sih!