Laki-laki jago masak dan seorang pemimpi akut!

Masak itu katarsis. Karena itu, saya suka laki-laki yg suka memasak, apa lagi kalau jago.

Menurut salah satu teman dekat saya (laki-laki dan hobi masak), salah satu ciri perempuan modern itu mudah dikalahkan oleh bumbu-bumbu dapur, dan saya masuk dalam kriteria tersebut. Banyak kok laki-laki yang senang melayani perempuan di meja makan. Carilah di tempat yang tepat. Tapi harus rela mengantri panjang. Hahaha.

Sepertinya ada 2 tipe laki-laki yang jago masak: pertama, dia lihai “melayani” perempuan. Kedua, he’s a gay. Tinggal pilih mau yang mana. Kata teman saya lagi, semua laki-laki yang suka memasak pasti tingkat kesabarannya lumayan tinggi, kecuali urusan menyiangi kangkung dan mengupas bawang merah. Hahaha. Laki-laki yang hobi masak sebagian besar sabar dan tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dibanding laki-laki yang memiliki hobi lain.

Masak tak beda jauh dengan koleksi barang, karena juga butuh passion dan kesabaran tersendiri. Orang koleksi sesuatu kan ngga sembarang bisa dapet barangnya. Ya, kan? Kita ngga pernah tau dan ga bisa dibuat-buat akan suka sama siapa. Kayak orang suka sama kaktus, emang dipikirin kalau itu bunga atau
bukan? ;p

Apa pun lah ya, mau bunga atau bukan, saya sih tetap berharap suatu hari nanti akan dapet “kaktus” yang subur. Atau dapet “barang koleksi” yang masih mulus dan, tentunya, koki yang charming.

Maaf ya, racauan saya kali ini bener-bener menunjukkan kalau saya hopelessly romantic. Well, 90% orang Indonesia kan hopelessly romantic. Sisanya hopeless beneran. Hahaha. Yah, setidaknya saya bukan golongan “sisa” atau hopeless beneran yang terkesan buangan. Dunia ini tak selebar daun kelor, meski tak lebih lebar dari daun jati. I always thirst of having such a wonderful experience, treasuring every inch of this whole world. Mungkin orang lain, atau bahkan kalian, akan berfikir bahwa saya adalah seorang pemimpi akut. Dan ya, mereka atau kalian tidak salah. Menurut saya, bermimpi itu penting. Kalau ternyata dunia cuma selebar daun kelor, paling tidak sudah dicoba untuk mewujudkannya kan? Bahkan Kalau bisa, saya maunya berpindah-pindah tempat terus sampai sisa umur. Eh engga sih, maunya end up di tempat yang tepat, bersama orang yang tepat. Menghabiskan sisa waktu di New York City bersama pria macam Jamie Oliver ;p

Haaah, saya bener-bener meracau kalau gini caranya nih. Hahaha. Mati gaya! Mau tidur juga susah. Sudahlah, mari kita hitung jumlah domba. Kalau kau susah menghitung domba, coba saja menghitung laki-laki yang bisa masak. Kalau masih susah tidur juga, maka abaikan saja hitungan. Tutup mata dan sumpahin apa saja. Apa saja, asal jangan diri sendiri. SBY, kapolri, jaksa agung lebih baik untuk disumpahi dari diri sendiri. Hahaha

Jamie Oliver