"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Month: June, 2010

World Cup and Somebody’s Story

Oke, saya awali tulisan ini dengan ucapan terima kasih kepada om saya, Arief Rachman, karena sudah meminjamkan saya salah satu DVD film kesukaannya, Invictus. Sekitar beberapa minggu yang lalu, saya main ke rumahnya dan iseng membongkar koleksi DVD-nya. Awalnya, saya agak kurang tertarik untuk meminjam DVD Invictus karena mood saya yang lagi gloomy. Saat itu saya lebih tertarik untuk meminjam film-film drama yang bisa dengan mudah memancing air mata untuk mengalir deras. Tapi untungnya om saya itu kekeuh maksa saya untuk nonton film karya Clint Eastwood itu. Dengan berat hati saya terima paksaannya. DVD itu sempat saya diamkan selama berhari-hari. Namun karena stok DVD film drama yang saya pinjam – yang ternyata tidak begitu memuaskan – sudah habis, akhirnya saya “menyerah” dan mencoba ikhlas untuk mulai nonton film itu. Untungnya pemeran-pemeran dalam film itu memang saya sukai. Cuma ya karena genrenya yang kurang pas saja sama suasana hati saat itu, jadi saya agak males nontonnya. Tapi rasa males yang gelayutan di pikiran saya itu hanya tahan selama beberapa menit setelah film dimulai. Morgan Freeman yang memerankan Nelson Mandela berhasil membuat saya betah mendengarkan kalimat demi kalimat yang dia ucapkan. Terlebih, setelah muncul si macho Matt Damon yang berperan sebagai kapten tim rugby Afrika Selatan. Imagine how sexy he is on a rugby uniform!

Perasaan saya seketika menjadi sangat sensitif saat melihat perjuangan Nelson Mandela untuk memerdekakan Afrika Selatan, yang digambarkan dengan sangat dramatis dalam film itu. Ia pernah dipenjara di dalam sel tahanan yang tidak lebih besar dari kamar mandi rumah saya. Hanya ada satu jendela kecil yang menghadap ke sebuah lapangan tandus, di mana terlihat ratusan narapidana, termasuk dia, dipaksa untuk memecah batu atau mengerjakan pekerjaan yang sangat berat. Bayangkan, dari ruang sekecil itu, ia masih mampu bermimpi besar. Bermimpi untuk memerdekakan tanah airnya. Dan semua mimpi-mimpi yang ia susun rapih dalam kepalanya, perlahan-lahan ia wujudkan. Ia tak pernah sia-sia memikirkan betul nasib negaranya. Ia telah menjadi presiden yang penuh kasih sayang dan menjunjung tinggi perdamaian. Dengan hati-hati ia meyakinkan rakyatnya untuk tak lagi membedakan warna kulit. Ia juga mempercayakan dirinya dilindungi oleh beberapa penjaga kepresidenan yang berkulit putih, meski pada awalnya diprotes oleh penjaganya terdahulu yang berkulit hitam.
Mimpinya tak lantas terhenti saat ia telah menjabat sebagai presiden. Ia masih mempunyai mimpi besar, yaitu membuat seluruh dunia tak memandang negaranya dengan sebelah mata. Ia kemudian memikirkan cara agar mimpinya kembali terwujud. Ia kemudian tertarik untuk membesarkan nama Afrika Selatan dengan pertandingan rugby. Mungkin kalian yang belum menonton film ini akan bingung, apa hubungan antara nama besar sebuah Negara dengan olah raga kasar itu. Nelson Mandela saat itu percaya, tim rugby negaranya akan bisa mengharumkan nama Afrika Selatan di mata dunia jika ia memberi support yang besar kepada pemain-pemainnya. Namun cara itu pun bukan perkara mudah. Sebagian besar pemain rugby Afrika Selatan berkulit putih. Bahkan hanya satu orang yang berkulit hitam. Kecaman dan pemaksaan pembubaran tim rugby oleh banyak sekali rakyat Afrika Selatan sama sekali tak memadamkan semangat Nelson Mandela. Ia datangi perkumpulan-perkumpulan kecil yang memaksa pembubaran tim rugby, kemudian ia beri himbauan dan bujukan untuk bersama-sama mendukung timnas rugby negaranya untuk berjuang mempertaruhkan harkat dan martabat Afrika Selatan di mata dunia. Dan benar saja, semua mimpinya terwujud. Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertandingan rugby internasional dan menduduki peringkat pertama dunia. Tunggu, tapi itu hanya dalam film Invictus. Ia dapat mewujudkan semua mimpinya dan berakhir bahagia.

Invictus

Tepat tanggal 11 Juni kemarin, mimpi Nelson Mandela benar-benar terwujud dalam dunia nyata. Negaranya, yang telah dengan susah payah ia bangun, akhirnya menjadi tuan rumah salah satu pertandingan olah raga paling termahsyur se-jagat raya. Afrika Selatan berhasil menjadi tuan rumah FIFA World Cup 2010. Tapi, pewujudan mimpi Nelson Mandela tak seindah dalam filmnya. Ia tak mendapat akhir yang bahagia. Pada tanggal 10 Juni, malam hari setelah mengunjungi konser kick off piala dunia, cicit Nelson Mandela, Zenani Mandela, dikabarkan mengalami kecelakaan mobil dahsyat hingga merenggut nyawanya. Saat mendengar kabar itu, saya refleks terdiam, mencoba membayangakan perasaan seperti apa yang sedang berkecamuk dalam dada Nelson Mandela. Di satu sisi, ia amat bangga mimpinya yang telah terpendam selama bertahun-tahun dapat terwujud. Namun di sisi lain, ia harus kehilangan salah satu orang yang amat ia cintai di dunia ini. Pada suatu artikel yang pernah saya baca, Nelson Mandela mengaku sangat dekat dengan cicitnya itu. Saya benar-benar tak dapat berpikir dan menerka-nerka apa yang dilakukan Nelson Mandela saat mendapat berita duka, tepat ketika ia sedang bersuka cita merayakan kebangkitan bangsanya.

Keesokan harinya, dunia merayakan pembukaan FIFA World Cup 2010 dengan perasaan gembira yang membuncah. Jutaan warga dunia serentak tertawa, tersenyum melihat parade musik dan tari yang diselenggarakan di stadion Johannesburg, bahkan saat Nelson Mandela muncul memberikan prakata singkat mengenai perdamaian yang HANYA muncul beberapa detik saja dalam giant screen di dalam stadion itu. Saya tak dapat membendung air mata saya melihat Nelson Mandela yang sudah semakin tua, namun tetap bersemangat menyuarakan perdamaian dengan suasana duka yang menyelimutinya. Penonton dalam stadion itu seolah kerasukan setan hingga tak sadar bahwa orang yang sedang berbicara di giant screen itu sedang sangat berduka. Dia seharusnya berpidato LANGSUNG di stadion itu, dan bukan hanya diberi jatah beberapa menit saja untuk sekadar tampil di giant screen. Rakyat Afrika Selatan seolah BENAR-BENAR LUPA pada orang yang telah mati-matian mewujudkan semua ini, LUPA pada orang yang bisa membuat Afrika Selatan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia. Mereka, semua yang berada dalam stadion itu, terus menari, tertawa terbahak-bahak, berusaha menarik perhatian cameraman agar dapat tersorot kamera. Mereka lupa untuk memberikan penghormatan atau sekadar berbela sungkawa kepada pahlawan mereka. Andai, mereka semua hening dan berduka atas kepergian cicit Nelson Mandela walau hanya 5 menit saja, saya yakin, Nelson Mandela bukan hanya bangga dengan rakyatnya, tapi lebih dari itu, ia akan  lebih ikhlas melakukan apa pun untuk rakyat dan negaranya…

Nelson and Zenani Mandela

God, please bless Nelson Mandela and his family.. And rest in peace, Zenani Mandela.. T.T

Mr. Big and Fabulous Fashion

Beberapa waktu yang lalu saya mengajak mama nonton Sex And The City 2. Well yes, that was a girls day out. Daripada mama saya suntuk mikir kerjaan terus, ngga ada salahnya sesekali saya ajak mama refreshing, ‘kan? Lagi pula, saya yakin, mama pasti suka sama filmnya. SATC memang menceritakan mengenai kehidupan perempuan seumuran mama saya. Dengan berbagai latar belakang, beberapa karakter dalam film itu bisa mewakili kondisi perempuan masa kini, dan mungkin, mama saya juga. Setiap karakter memiliki cerita tersendiri. Let’s say, Carrie. Menurut saya, dialah perempuan paling beruntung dalam film itu. Dia tidak harus direpotkan dengan kehadiran anak-anak, seperti yang terjadi pada Charlotte. Dia tidak harus merasakan sakit hati karna tak dihargai oleh atasan di kantor, seperti Miranda. Dan yang pasti, dia tak perlu repot dengan berbagai macam obat kecantikan, seperti yang dialami Samantha untuk menarik perhatian laki-laki, karena Carrie sudah sangat beruntung memiliki Mr. Big.
Ya, Carrie sangat beruntung memiliki Mr. Big, seorang lelaki yang penuh kasih sayang, mengerti kemauan perempuan, dan sangat sabar. Poin ini yang sebenarnya ingin saya bicarakan. Entah kenapa, saya jarang sekali menemukan laki-laki yang hampir menyerupai Mr. Big ini. Well, ada beberapa laki-laki yang memang setia terhadap pasangannya, tapi coba perhatikan lagi, kadang mereka masih ingin “dilayani” oleh sang istri. Saat lelah pulang kerja, mereka masih meminta istri mereka untuk memijat, atau bahkan saat istri sedang tak enak badan, mereka tetap menuntut istri untuk memasak. Bagi kalian yang belum nonton film ini, for your info, tokoh Mr. Big ini hampir tidak pernah menuntut apa pun dari Carrie. APA PUN! Dia justru sangat memanjakan sang istri. Dari hal paling sederhana seperti membawakan makanan dari  Chinese restaurant yang baru buka di Madison Ave, mengabulkan permintaan istrinya untuk datang ke movie premiere saat ia sedang merasa sangat lelah. Atau yang lebih dari itu, ia memberi istrinya 2 days off untuk mengerjakan tulisan di apartment lamanya, membuatkan ruangan khusus untuk wardrobe, mengijinkan istrinya berlibur seminggu ke timur tengah, sampai ke hal yang sebenarnya sangat memilukan. Saat Carrie diijinkan berlibur ke Abu Dhabi, harusnya ia menjaga kepercayaan sang suami. Tapi ia justru melanggarnya. Ia berciuman dengan Aiden, mantan kekasihnya yang awalnya secara tak sengaja bertemu di tengah pasar. Saya yakin, kalau laki-laki lain yang menghadapi permasalahan seperti itu, pasti akan kalut dan berakhir dengan pertengkaran. Mungkin yang lebih parah akan end up dengan perceraian. Tapi pikiran seperti itu sama sekali ngga ada di kepala Mr. Big. Dia cuma butuh waktu sehari untuk meredam amarahnya. Dan saat istrinya sudah berada di rumah, ia justru “menghukum” dengan memberikan limited edition black diamond ring seharga $10.000!!!

The $10.000 Black Diamond Ring

Dia gila! Si Mr. Big itu sudah gila! Haduuuh.. Mungkin kalian yang belum nonton bingung, dia marah kok malah kasih cincin super duper cantik dan mahal ke istrinya? Dalam cerita, Carrie tidak suka mengenakan cincin dengan hiasan diamond. Yaaah, tapi kalau sampai Carrie menolak cincin itu, bisa-bisa saya sobek layar bisokopnya saking keselnya! Hahaha. Sudah untung dimaafkan, ‘kan?
Nah, sekarang yang salah siapa nih kalau saya mengharapkan ada lelaki seperti Mr. Big di dunia nyata? Apa benar ada yg seperti dia? Coba sini, sini bawa ke sini kalau ada. Saya mau satu. Hahaha..

The Charismatic Big 🙂

Udah ah, saya ngga mau mimpi kejauhan, saya mau bahas yang seru-seru aja. SATC ngga akan bisa lepas dari para designer handal dan para fashion stylist yang canggih. Let’s say, Yves Saint Laurent, Christian Dior, Louboutin, Jimmy Choo, Brian Atwood, dan lain-lain. Karena merekalah SATC bisa menjadi film dengan fashion terbaik.

Meski sebagian besar latar bertempat di Abu Dhabi, para tokoh SATC2 tetap ngga bisa lepas dari gaya New Yorkernya. Sepetinya taste New Yorker mereka sudah tertanam sejak mereka mulai menginjakkan kaki di New York.

Dalam SATC2 ini juga diperlihatkan gaya mereka saat mereka baru saling mengenal.

when they were young

Mereka memiliki karakter dan ciri khas masing-masing. Carrie, dengan gayanya yang selalu up to date.

Carrie Bradshaw

Charlotte yang sangat feminim dan keibuan.

Charlotte York

Miranda, dengan gaya khas career women.

Miranda Hobbes

Dan yang paling saya suka, Samantha, very independent and a bit rock and roll. Hahaha..

Samantha Jones

Well, intinya, saya suka film ini. Secara cerita, sebenarnya tidak terlalu istimewa. But it’s absolutely must watch movie. Film ini cukup menghibur dan menginspirasi. Terutama untuk kalian yang cinta dengan dunia fashion, dan pastinya, untuk kalian yang ingin belajar menghargai pasangan, keluarga, dan diri sendiri.. Selamat menonton! 🙂