"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Month: May, 2010

Little City with Big Smiles

People may not know about this little city, or they just don’t recognize it. In fact, it gives a lot of inspiration. Beautiful panorama and friendly locals. What else?

BREBES, CENTRAL JAVA 2010

Nafas

Aku mencintaimu.
Sejak pertama kali kau hadir dalam mimpiku.
Sebelum aku mengenalmu.

Aku merebahkan tubuhku di atas rumput tepi danau. Pohon-pohon hutan karet di belakangku menghantarkan semilir angin sore yang sesekali menerpa badanku, membuat aku sedikit kedinginan. Aku suka menyendiri di sini. Danau belakang kampusku ini benar-benar indah saat mentari mulai pulang ke ceruknya. Tak banyak orang yang mau berkunjung ke sini menjelang maghrib. Mereka bilang tempat ini angker. Mereka juga mengolokiku cenayang gila karena sering ke sini sendirian. Mereka yang bodoh. Mereka yang tak tahu keindahan alam. Isu-isu konyol seputar hantu penunggu hutan dan danau seketika tertelan hilang setelah melihat air danau yang berkilau-kilau jingga terkena pantulan sinar mentari. Namun, langit sore ini tak begitu cerah. Semburat jingga mulai hilang terhalang mendung. Tak apa, toh tempat ini tetap jauh lebih menarik dibanding kegaduhan kantin kampusku.
Tak ada seorang pun di dekatku. Hanya aku, terlentang, ditemani sebatang rokok dan sekaleng kopi susu. Pikiranku melayang, mencoba mengulang mimpi semalam. Dalam mimpiku, aku melihat sepasang kekasih. Tidak, mereka tidak sedang bermesraan. Mereka bertengkar hebat. Aku hanya memperhatikan dari kejauhan. Tak jelas tempat apa yang menjadi latar dalam mimpiku. Hanya warna hitam pekat yang lama-kelamaan justru memperjelas sosok lelaki itu. Jelas sekali! Lelaki berpostur tinggi, berwajah pucat pasi. Ia mengenakan celana jins robek-robek dan jaket hitam yang tudungnya ia tutupkan ke kepalanya. Sambil menahan emosi terhadap wanita di depannya, ia tetap memasukkan kedua tangan ke dalam kantung jaketnya. Sesekali ia sedikit meninggikan nada bicara. Dan pada puncaknya, wanita itu menangis tersedu-sedu, kemudian berlari sekuat tenaga meninggalkan lelaki itu sendirian.
Ya, lelaki di mimpiku semalam. Ya, dia. Aku mencintainya. Tapi aku tak tahu siapa dia. Tapi aku yakin, ia tercipta untukku. Ia terlahir untuk menjadi malaikat penjagaku. Tapi siapa dia? Ke mana aku harus mencarinya? Pandanganku kosong. Semilir angin seperti membawa bayangan sosok lelaki itu terbang melayang-layang, namun kemudian sesekali kuhirup lagi angin itu kencang-kencang. Agar aku dapat merasakan kehadirannya. Merasakan ruhnya merasuk, menyatu dengan nafasku. Mungkin orang akan bilang aku gila. Terserah. Tapi aku sangat yakin, akan kutemukan lelaki itu kelak. Entah kapan, tapi pasti.
Terdengar suara rumput yang tergesek-gesek langkah kaki dari arah hutan karet di belakangku. Sial. Aku tak suka ada pengganggu. Aku merasa hutan dan danau ini milikku dari sore hingga sehabis maghrib. Aku segera bangkit. Duduk bersila sambil sedikit menoleh ke belakang. Mencari tahu siapa yang berani-beraninya mengusik ritual melamunku sore ini. Aku melihat seorang wanita yang dengan agresifnya menarik tangan seorang lelaki. Ah, pasti mereka akan menjadikan tempat ini sebagai arena melepas hasrat seksual yang sudah menggebu-gebu karena seharian tertahan rentetan jadwal mata kuliah. Mengganggu saja.
Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Merelakan ritual melamun soreku terhenti begitu saja untuk sepasang kekasih yang akan bermanja-manja. Aku menggenggam kaleng kopi susuku yang sudah kosong, menyalakan rokok kesepuluhku untuk hari ini, dan membersihkan sisa-sisa rumput yang menempel di baju dan celanaku. Aku akan bergegas pergi. Namun, baru sedikit kuayunkan kaki, aku mendengar bentakan keras seorang lelaki. Mendesak lawan bicaranya untuk menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Ternyata itu suara lelaki yang bersama kekasihnya tadi. Mereka datang ke sini bukan untuk beradu kasih, tapi saling berdalih. Tunggu, ada yang salah dengan adegan ini. Aku mengurungkan niatku untuk pergi. Aku bersembunyi di balik pohon karet besar untuk memperjelas pandangan dan pendengaranku. Sial, lelaki itu memunggungiku. Badannya yang tinggi menghalangi wanita yang berada di depannya. Aku jadi tak bisa melihat kedua wajah orang itu. Dan lebih sial lagi, ketika aku baru saja mendapat posisi yang pas untuk mengintai, sang wanita tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan kemudian lari sekuat tenaganya.
Lelaki itu menunduk. Ia membalikkan badannya ke arahku. Ya, sedikit lagi aku akan melihat rupanya. Dan benar, ia mengangkat kepalanya pelan-pelan. Astaga! Ia lelaki yang di mimpiku! Lelaki yang tercipta untukku, yang aku cintai. Adegan barusan adalah mimpiku yang menjadi kenyataan. Aku hampir tak percaya. Semudah ini menemukan belahan jiwaku. Secepat ini kutemukan cinta dalam mimpiku semalam. Aku menghela nafas panjang. Tetap memperhatikan. Dengan langkah gontai, ia terus berjalan pelan-pelan. Membetulkan letak tas ranselnya agar terasa nyaman dikenakan, kemudian menutupi rambutnya yang berantakan dengan tudung jaket hitamnya. Persis! Persis sekali seperti di mimpi. Tinggal beberapa langkah lagi ia akan sampai tepat di hadapanku. Aku justru tak dapat beranjak. Kakiku seperti dihunjam paku bumi. Sekujur tubuhku kaku.
Ia terkejut saat tiba-tiba mendapati diriku di balik pohon karet besar. Mungkin tadinya ia mengira aku hantu penunggu hutan ini. Namun ia justru heran melihat aku yang hanya bisa tertegun memandanginya. Ia menanyakan kondisiku. Ia juga meyakinkanku kalau ia bukan hantu penunggu hutan. Untungnya, aku masih dapat mengendalikan diri. Aku bilang kepadanya, aku tak sengaja melihatnya bertengkar dengan kekasihnya tadi.
“Bukan salah kamu,” ia kemudian tersenyum. Lesung pipi kecil menghiasi wajahnya yang pucat pasi. “Aku justru jadi punya teman untuk berkeluh kesah, bukan?!” Ia melanjutkan kalimatnya yang terdengar janggal bagiku.
“Berkeluh kesah? Bukankah kita tidak saling kenal?”
“Memang. Tapi kurasa kamu orang yang tepat untuk berbagi cerita denganku.”
Bagai cinta yang bersambut, aku dengan suka cita menemaninya duduk memandangi danau. Ia mengambil bungkus rokok kretek dari dalam tas, mengambilnya sebatang, kemudian menawariku. Aku menggeleng. Aku tak mau asap rokokku menghalangi pandanganku menatap wajahnya.
“Aku Ludira. ” Ia memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan.
“Aku Rengganis.”
Ia mulai membuka pembicaraan. Ia bilang, ia juga mahasiswa kampusku yang hampir setiap selesai kuliah langsung bergegas pulang. Ia tak betah dengan suasana kampus. Pantas aku tak pernah melihatnya. Atau memang karena aku yang selalu bersembunyi di tempat keramat ini sehingga jarang mengenal mahasiswa lain kecuali teman sekelasku? Tak tahulah. Yang jelas, kami sama-sama tak betah dengan suasana gaduh kampus kami. Satu kecocokan yang sudah kutemukan pada awal pertemuan. Lalu ia mulai bercerita bahwa wanita yang ia bentak tadi adalah mantan kekasihnya. Wanita itu terus mendesaknya untuk kembali menjalin hubungan. Tapi ia tak mau. Ia tak mencintainya lagi.
“Aku sudah mencintai wanita lain, sekarang.”
Seketika rinai hujan turun berjuntai-juntai. Meski air yang menghunjam dari langit mulai membasahi seluruh tubuh kami sedikit demi sedikit, kami bergeming. Hatiku bergemuruh. Seolah menemukan kepingan hati yang selama ini hilang dan telah kucari ke sana ke mari. Kami tetap duduk bersila bermandikan air hujan. Menikmati setiap tetes air yang jatuh ke kelopak mata. Memandangi air danau yang membentuk bulatan-bulatan yang semakin membesar terhantam tetesan hujan. Aku tetap memandangi senyumnya yang teduh.

***

Aku tak tahu mengapa aku bisa menceritakan semua masalahku kepada wanita yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Mungkin karena aku tak tahu lagi kepada siapa aku harus berkeluh kesah. Aku lelah. Lelah menghadapi rongrongan mantan kekasihku. Sudah berjuta kali kubilang kepadanya, aku tak mencintainya lagi. Dengan tak sengaja, setelah berhasil membuat mantan kekasihku menangis tersedu-sedu, aku bertemu Rengganis. Wanita yang juga satu kampus denganku, tapi tak pernah kulihat sebelumnya. Atau mungkin karena aku yang tak terlalu peduli dengan lingkunganku? Sepertinya ia wanita baik. Ia bilang, ia lebih suka menyendiri di tepi danau ini. Sama sepertiku, ia tak terlalu suka dengan suasana gaduh kampus kami. Ya, memang kampus kami terlalu padat. Beberapa teman sekelasku juga merasakan hal yang sama.
Aku benar-benar menceritakan semua masalahku. Aku menceritakan mantan kekasihku yang sudah tak punya harga diri itu. Rasanya, Rengganis tak merasa terganggu dengan segala keluh kesahku. Ia tetap mendengarkanku, memandangiku dengan senyumnya yang teduh. Hingga hujan menghunjam, ia tetap setia menemani. Seolah ia tahu, aku sedang sangat membutuhkan dirinya.

***

Ini tahun kedua aku mengenalnya semenjak awal kami bertemu. Ia tidak pernah menjadi kekasihku. Namun aku tetap mencintainya. Bukan karena cintaku bertepuk sebelah tangan, bukan. Tapi kami lebih memilih untuk menjalani segalanya mengalir bagitu saja. Toh ia memang tercipta untukku. Aku tetap menganggapnya belahan jiwaku. Tak perlu takut kehilangan, karena pada akhirnya, ia akan kembali padaku.
Sekarang, ia tepat berada di sebelahku. Ia sedang tak sadar. Daya tahan tubuhnya menurun saat pertandingan sepak bola siang ini. Tekanan darahnya yang sangat rendah menyebabkan ia jatuh pingsan. Aku dan teman-temannya segera melarikannya ke pusat kesehatan mahasiswa. Tapi saat ini hanya aku yang menungguinya. Temannya yang lain kupaksa kembali ke lapangan. Mereka bisa mengerti.
Aku terus memandangi wajahnya yang pucat pasi. Sungguh, ia terlihat sangat tak sehat. Oh, aku hanya ingin melihatnya terus tersenyum. Aku tak suka melihatnya terbaring lemah seperti ini. Aku mencintainya. Andai aku dapat menggantikannya. Biar aku saja yang terbaring lemah. Biar aku saja yang merasakan sakitnya.
“Tuhan, biarkan aku merasakan apa yang ia rasakan.”
Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang pucat pasi. Tanpa sadar, aku mengecup bibir tipisnya. Dan seketika, ia tersadar. Perlahan-lahan, ia mulai membuka matanya. Aku hampir tak percaya melihat apa yang baru saja terjadi. Bagai dalam dongeng putri tidur.

***

Sudah dua tahun setengah aku mengenalnya, sejak perkenalan aneh kami di hutan pinggir danau belakang kampus. Kami dekat. Sangat dekat. Ia wanita yang menyenangkan. Tapi itu dulu. Semenjak setengah tahun yang lalu, ia mulai bertingkah aneh. Sejak aku tersadar dari pingsan saat pertandingan bola di kampus. Saat aku membuka mata, ia bilang ia merasakan detak jantungku. Awalnya, kupikir itu cara dia mengungkapkan perasaannya, hanya sebatas itu saja. Ternyata setelah itu, ia mengatakan bahwa aku tercipta untuknya. Ia yakin, aku adalah belahan jiwanya.
Ia selalu bilang bahwa ia juga merasakan apa yang aku rasakan. Tapi menurutku semua terasa sangat berlebihan. Saat ia mengalami kejadian yang hampir sama denganku, ia sebut itu takdir. Ia bilang itu kekuatan supranatural. Kekuatan di luar kendali manusia. Semua itu terjadi karena Tuhan memberi pertanda bahwa aku memang tercipta untuknya. Tuhan mengabulkan doanya untuk merasakan apa yang aku rasakan. Hampir setiap hari ia bilang bahwa ia juga merasakan detak jantungku.
Aku selalu bilang padanya, “Tidak, itu bukan detak jantungku, Rengganis. Kau juga manusia. Jantungmu juga berdetak. Yang kau rasakan itu detak jantungmu sendiri.”
Ia tetap keras kepala, ia menyalahkanku. Ia bilang aku mengingkari kehendak Tuhan. Ia bilang, aku berusaha menghindari kenyataan. Saat jariku tak sengaja tergores pisau, ia bilang jarinya juga berdarah tertusuk jarum. Lagi-lagi, ia bilang itu pertanda karena ia ditakdirkan untuk merasakan apa yang aku rasakan. Sesungguhnya itu hanya sebuah kebetulan. Itu terjadi karena kecerobohannya sendiri. Ia menyulam kaus kaki hingga larut malam. Wajar saja jika saat itu dia mengantuk dan tak sengaja tertusuk jarumnya sendiri. Sungguh, itu hanya sebuah kebetulan.
Kemudian saat aku mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu, tulang kaki kananku retak sehingga aku tak dapat berjalan. Saat itu ia bilang kaki kanannya juga sedang sakit karena terpeleset di kampus saat hujan deras. Lalu seolah-olah ia benar-benar tidak dapat berjalan sepertiku. Lagi-lagi, ia berbicara mengenai takdir, kekuatan supranatural, dan kehendak Tuhan. Sungguh, demi Tuhan, aku yakin sekali dia masih bisa berjalan. Tulang kaki kanannya tidak retak. Ia hanya terkilir. Namun ia tetap berdalih, kakinya sama sakit dengan kakiku.
Aku mulai jengah dengan sikapnya. Kurasa, semua yang ia katakan sebagai takdir hanyalah sugestinya sendiri untuk merasa lebih dekat denganku, agar ia menjadi bagian dari hidupku. Akibat cintanya yang terlalu besar padaku, segala hal ia kaitkan denganku. Padahal, segala peristiwa yang ia anggap sebagai cerminan atas apa yang aku alami pasti memiliki alasan logis. Bukan karena takdir, kehendak Tuhan, atau kekuatan supranatral. Bukan. Ia terlalu berpikir berlebihan.

***

Aku sungguh mencintainya. Aku mencintainya sebelum aku mengenalnya. Sejak ia muncul di mimpiku. Aku yakin, ia tercipta untukku. Ia ditakdirkan untukku. Ia, belahan jiwaku. Aku dapat merasakan apa yang ia rasakan. Sungguh. Aku dapat membuktikannya. Itu kekuatan supranatural.
Meski ia bilang selalu ada alasan logis di balik semua kejadian, tapi percayalah, semua itu bukan hanya sebuah kebetulan. Kebetulan hanya terjadi sekali atau dua kali, bukan?! Tapi tak hanya sekali atau dua kali aku mengalami hal yang sama dengannya. Dan mengapa selalu berakibat sama? Mengapa aku selalu merasakan hal yang sama?
Berkali-kali kukatakan padanya, “Ini takdir, Ludira.” Tapi ia tak pernah mempercayaiku. Tak pernah, sekali pun.

***

Hatiku sakit. Pagi tadi, Jasmine, gadis yang selama ini kucintai, menolak untuk memaut hati denganku. Tak ada yang tahu kalau selama ini aku mencintainya. Aku lebih suka memendam cintaku sendirian. Tak ada yang boleh tahu. Terlebih Rengganis. Karena jika ia tahu, aku takut ia akan berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan. Dengan alasan konyolnya itu, ia bisa saja menghabisi Jasmine. Aku tidak mau. Ah, dadaku masih sesak. Aku masih tak dapat menerima kenyataan.
Semilir angin tepi danau membuat suasana semakin sendu. Dedaun kapuk yang beterbangan dari hutan di belakangku seolah menggambarkan perasaanku yang bagai tertiup angin, tak menentu. Tiba-tiba Rengganis muncul di sampingku. Ia menatapku dalam-dalam dan mulai meneteskan air matanya.
“Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan.”
Ah! Lagi-lagi kalimat itu! Aku bosan dengan omong kosongnya itu! Gila!
“Aku tak berbahagia atas penolakan cinta Jasmine. Aku sangat mencintaimu. Jika hatimu hancur, begitu pula hatiku.”
“Dari mana kau tahu tentang Jasmine?”
“Dari dulu aku tahu kau sangat mencintainya. Aku tahu bukan dari siapa-siapa. Aku hanya tahu sendiri. Mungkin Tuhan yang membisikkannya padaku saat aku tidur. Kau ingat kekuatan supranatural?”
“Aaahhh! Sudahlah, Nis! Aku muak dengan omong kosongmu itu! Kau selalu berbicara tentang takdir, supranatural, kehendak Tuhan dan segala bualan-bualan bodohmu! Aku tak percaya dengan semua itu! Aku bukan tercipta untukmu! Aku bukan belahan jiwamu! Sampai kapan pun! Dan satu hal yang ingin kutegaskan padamu, Nis, aku tak pernah mencintaimu, sedetik pun!”

***
Keluasan laut
Menyesak dada
Nafas terpaut
Pada rasa seluas maut

(Sitor Situmorang)

Demi Tuhan, aku tak dapat bernafas. Demi Tuhan, dadaku sesak. Seperti terkurung dalam sebuah kotak transparan yang hampa udara. Tak ada udara sedikit pun di sekitarku. Aku menangis sendu sampai terbatuk-batuk. Sungguh, aku sangat mencintainya. Sungguh. Mengapa ia berkata seperti itu?
Tolong aku. Mengertilah. Terimalah kehendak Tuhan, Ludira.
Aku memang dapat merasakan apa yang ia rasakan. Aku tidak membual.
“Jangan pernah kau mengganggu hidupku lagi! Aku menyesal kenal denganmu!”
Ia membentakku dengan penuh amarah. Amarah yang seolah tak dapat diredam. Mengerikan. Dengan sekuat tenaga dan terbata-bata, aku mengucapkan kalimat terakhirku padanya.
“Aku tak dapat bernafas, Ludira. Aku tak dapat meredam tangisku. Aku benar-benar mencintaimu. Karena itu, aku menuruti kemauanmu. Aku takkan mengganggumu lagi. Sebentar lagi aku akan mati. Aku akan mati kehabisan udara. Dan aku rela. Aku rela mati jika kau yang meminta. Sebentar lagi, Ludira. Sebentar lagi, aku akan menghilang darimu. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Sungguh, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan…”

***

Sekeping bulan rebah di saku baju
Sekeping hati, mencarinya di langit biru

(Sitok Srengenge)

Ia benar-benar hilang. Hilang tepat setelah ia mengucapkan kalimat yang paling sering ia ucapkan padaku. Hilang di tempat pertama kali kami bertemu. Saat ia pergi, seketika awan hitam melanda langit biru. Hujan turun dengan lebatnya. Menghantam-hantam tubuhnya yang tersungkur tak bernyawa. Dedaun pohon karet beterbangan ke segala penjuru hutan dan pinggir danau. Gemuruh guntur seolah memberi isyarat atas alam yang sedang berkabung. Mengerikan. Mungkin selama ini aku yang salah tak percaya kekuatan supranatural atau kehendak Tuhan. Sore itu, seolah ada sesuatu yang mengendalikan alam untuk murka padaku. Seolah seluruh sudut bumi ini menuduh aku yang menyebabkan kematian Rengganis.
Saat ini, aku kembali duduk di tempat pertama dan terakhir kali aku dan Rengganis bertemu. Hari ini cerah. Langit begitu biru. Burung-burung kecil terbang ke sana ke mari. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Pepohonan kapuk yang rimbun, air danau yang sangat tenang, dan rerumput tepi danau yang hijau membentang. Baru seminggu ia menghilang, tapi mengapa aku sangat merasa bersalah atas kematiannya? Ia mati karena kehabisan nafas. Ia kehabisan nafas karena menangis. Dan ia menangis karena aku. Ya, aku yang telah membunuhnya secara tidak langsung. Aku menyesal. Aku menyesal tidak mempercayainya.
Kugenggam pot bunga mawar yang ia berikan padaku dulu, yang bunganya selalu merekah cantik. Warna putihnya begitu bersih. Ia pernah bilang, bunga itu lambang kasihnya padaku. Aku mencoba merasakan kasihnya lagi. Namun tiba-tiba pangkal kelopak mawar mulai menghitam, merambat hingga ke ujungnya. Kemudian satu per satu kelopaknya mulai rontok, beterbangan tertiup angin, tak bernyawa. Aku sungguh menyesal tak percaya akan kekuatan supranatural, takdir, dan kehendak Tuhan. Setelah kematian Rengganis, alam seolah membuktikan padaku tentang kebenaran semua itu. Aku merasa sangat kehilangan. Aku mulai menyadari bahwa ia satu-satunya wanita yang paling mengerti diriku. Sungguh, aku sangat membutuhkannya.

Best resto and café in Java-Bali!

Hey, fellas!

Thank you so much for stopping by again. Pada tulisan saya kali ini, saya akan berbagi pengalaman dan kesenangan kepada kalian semua. Dari dulu, saya hobby banget jalan-jalan dan mengeksplor tempat-tempat baru, apalagi kalau tempatnya menarik dan ngga memakan biaya yang besar. Saya bisa terus-terusan inget dan ingin balik lagi. Ngga cuma jalan-jalan aja, saya juga hobby makan. Kadang orang-orang takut untuk coba makanan yang belum pernah mereka tau. Tapi kalau saya, ngga pernah ragu-ragu untuk coba dengan segala risiko yang akan saya tanggung sendiri.

Kalian hobby jalan-jalan juga? Selamat!  Kalian dapet satu panduan lagi tentang resto-resto dan café-café terbaik di Jawa dan Bali. Ada beberapa alasan kenapa saya cuma memasukkan pulau Jawa dan Bali. Pertama, hanya dua pulau inilah yang sangat familiar dengan saya. Kedua, dua pulau ini pula lah yang sering dikunjungi oleh para pelancong, baik yang lokal atau pun internasional. Ketiga, dua pulau ini aja sudah terlalu besar dan ngga ada habisnya untuk dieksplor.

Dalam tulisan saya ini, saya akan memasukkan kota-kota besar saja. Di kota-kota kecil sebenarnya juga banyak resto dan café yang menarik. Bukannya mau underestimate, tapi kalau mau dimasukkan semua saya bisa ngga tidur seminggu untuk nulis review ini.

JAKARTA
Oke, kita mulai dari ibu kota Jakarta. Buat kalian yang tinggal di Jakarta, pasti suka bingung menentukan resto atau café mana yang akan kalian singgahi, karena terlalu banyaknya tempat menarik. Tapi buat saya, ada beberapa tempat yang jadi top choice saya untuk menikmati hidangan sekaligus suasananya.
•    That’s Life Coffee
Terletak di daerah Senopati, tepatnya di Jl. Gunawarman no.24, Jakarta Selatan. Café ini menyajikan berbagai macam minuman nikmat dan makanan ringan yang enak. Yang menjadi favorit saya adalah smoothies, sandwich dan suasana hommynya! That’s life pas sekali untuk dijadikan tempat diskusi atau sekadar ngobrol ringan. Tidak hanya itu, that’s life sering dijadikan tempat pameran para seniman muda berbakat. Jadi, ngga cuma memanjakan perut, tapi juga memanjakan mata dan intelektualitas.

That’s Life Coffee

Tuna Sandwich from That's Life

•    Warung Solo
Terletak di daerah Jeruk purut, tepat di sebelah pemakaman umum. Eh, jangan takut dulu! Tempatnya ngga horror kok. Justru keren banget. Resto ini dibangun dengan nuansa Jawa yang sangat kental. Joglo-joglo dengan ukiran yang apik dan suasana pedesaan yang bisa membuat kita rileks. Semua perabot dan hiasan serba kayu dan kuno. Menu yang ditawarkan pun sangat menggugah selera. Walau namanya Warung Solo, tapi menunya ngga cuma khas Solo aja, lho. Hampir semua makanan dan minuman khas dari berbagai daerah di Jawa ada semua. Dari gudeg, selat solo, wedhang jahe, temulawak, mie godhog, rawon, garang asem, rujak cingur, dan sebagainya. Ngga cuma itu, yang paling saya suka kalau berkunjung ke Warung Solo adalah saya bisa menikmati teh poci hangat di bawah pohon rindang di depan joglo sambil memerhatikan ibu-ibu yang sedang membatik! Nikmatnyaaa..

Warung Solo

Vicky at Warung Solo with his weird face. LOL!

BANDUNG
Nah, sekarang kita pindah ke Bandung. Buat warga Jakarta dan sekitarnya yang suka sekali shopping dan wisata kuliner, Bandung adalah surganya. Mau belanja baju, sepatu dan tas ya tinggal muter-muter aja di jalan Riau. Seharian juga ngga bakal selesai. Atau ke Paris Van Java. Di sana tempatnya nyaman sekali untuk belanja atau sekadar window shopping. Konsep yang dibentuk mirip sekali seperti pusat perbelanjaan berbentuk plasa di kota-kota besar di Eropa. Dijamin kalap, deh! Eh, tapi kuliner di Bandung ngga kalah sama fashionnya, lho! Mari kita tengok resto dan café yang jadi andalan saya kalau saya sedang melancong ke Bandung.
•    The Valley
Resatoran ini berada di Jl. Lembah Pakar Timur 28, Dago, Bandung. Karena lokasinya yang berada di daerah Dago, The Valley jelas menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, terutama di malam hari. Indahnya kota bandung dan kerlipan lampu warna-warni yang tampak di kejauhan membuat restoran ini terasa sangat istimewa. Apalagi sambil menikmati hidangan lezat seperti Sop kepiting asparagus, cumi bakar hot plate (saya yakin kalian puas sekali dengan ukuran cuminya!), veal salisbury, dan berbagai macam makanan lezat lainnya. Di The Valley, kalian bisa memilih menu Indonesian food, Western dan Japanese. Jadi tergantung selera saja. Ngga cuma main course saja, The Valley juga menyediakan appetizers dan desserts yang nikmat seperti tiramisu, ice cream dan fresh fruit platter. Dijamin ngga pengin pulang!

The Valley

Cumi Bakar The Valley

•    Atmosphere Resort Café
Kalau yang ini, tempatnya di Jl. Lengkong Besar 97, Bandung. Sesuai namanya, yang sangat menonjol dari café ini adalah atmospherenya. Kita bisa memilih tempat sesuai selera. Mau di bale-bale, di dalam gedung, outdoor dengan pemandangan kolam atau di balkon. Semua sudut café ini terasa sangat nyaman. Tapi yang jadi spot favorit saya, ya yang dekat dengan kolam dong. Terutama kalau malam, air dari kolam memantulkan sinar lampu yang banyak menghiasi bale-bale. Luar biasa! Masalah menu, ngga perlu khawatir. Makanan dan minumannya hampir semua lezat! Sirloin beef with mushroomnya, wah! Ngga boleh dilewatin sama sekali. Tornedos Cellophyne dan Avocoffee juga sangat menggoda. Jangan lupa mampir kalau main ke Bandung!

Atmosphere Cafe

Sirloin beef topped with mushroom and mozarella cheese, served with mashed potato, mixed vegetable, and gravy sauce.

JOGJA
Dari Bandung, kita bergerak ke kota seni Jogja. Saya selalu menyebut Jogja sebagai kota seni karena memang kita bisa menemukan berbagai macam kesenian di hampir seluruh sudut kota ini. Bagi kalian para pelancong, saya jamin kalian ngga akan mati gaya kalau berkunjung ke Jogja. Ada saja acara kesenian yang sangat sayang untuk dilewatkan setiap harinya. Ngga cuma acara seni saja yang menarik dari Jogja. Kota ini menawarkan begitu banyak pilihan untuk berwisata kuliner. Dari yang angkringan pinggir jalan, resto dan café berkelas, bahkan warung makan yang berlokasi di pelosok kampung namun banyak diburu kaum elite pun ada! Wah, kota yang satu ini benar-benar menarik hati saya. Sampai-sampai, dua bulan saya tidak ke sana saja rasanya sesak napas!
•    Sangam House
Resto dan boutique khas India ini letaknya di Jl. Pandega Siwi 14, Jogja. Begitu memasuki tempat ini, kita akan langsung disambut oleh deretan kain warna-warni dan pernak-pernik lucu khas India yang rasanya sangat sayang jika tidak ditengok. Pertama kali saya ke sana, rasanya seluruh isi ruangan itu ingin saya pindahkan ke rumah saya! Tapi sayangnya saya hanya mampu membeli sehelai kain India berwarna ungu dan dua pasang sepatu dari kulit unta yang sangat cantik. Setelah cukup puas memanjakan mata, akhirnya saya memutuskan untuk memanjakan perut. Design resto yang berwarna-warni dengan dilengkapi pajangan khas India membuat saya semakin penasaran dengan menu-menu yang mereka tawarkan. Dan benar saja, saat pelayan menyodorkan menu saya langsung kebingungan. Mereka menawarkan curry, tandori, chapatti, pharata, palaak paneer, Lime grass, Lasi, dan menu menarik lainnya. Sungguh menggoda selera. Rasanya saya ingin mencoba semua!

Me at Sangam

My mom at Sangam

Super Delicious foods and fresh beverages

•   Pecel Solo
Nama resto ini memang Pecel Solo, tetapi letaknya di Jl. Palagan Tentara Pelajar 52, Jogja. Tepat di sebelah hotel Grand Hyatt. Suasana yang di tawarkan begitu memikat. Bangunan joglo dengan ukiran-ukiran menawan dan bangku-bangku panjang serupa warung pinggir jalan berhasil membuat saya sangat betah berlama-lama di sana. Makanan khas resto Pecel Solo tentu ya Pecelnya. Tapi ada yang berbeda dengan pecel-pecel yang sering kita temui di tempat lain. Bumbu yang digunakan menggunakan kelapa! Pecelnya pun disebut pecel ndeso. Tapi ada menu lain yang juga ngga kalah enak. Sebenarnya menu resto ini tidak jauh berbeda dengan yang ditawarkan oleh Warung Solo Jakarta. Tapi tentunya dengan suasana yang berbeda. Kalau haus, kita bisa memesan es dawet, es tapai ketan dan minuman-minuman tradisional lainnya. Masalah harga ngga perlu khawatir. Saat pertama kali saya berkunjung ke sana, saya bersama tujuh orang kerabat dan hanya menghabiskan sekitar 200 ribu saja! Padahal saat itu kami makan banyak sekali, lho. Patut kalian coba!

Pecel Solo

The foods are superrbbb!!!

SEMARANG
Mari kita menuju ke utara jawa. Banyak orang bilang Semarang kurang menarik untuk dikunjungi. Mereka salah! Banyak tempat menarik yang sayang untuk dilewatkan. Siapa bilang Semarang cuma punya lawang sewu? Di Semarang sekarang ada pecinan yang sangat ramai di malam hari. Mereka menawarkan berbagai macam makanan, pernak-pernik, kebudayaan yang semua berasal dari Cina. Saat saya berkunjung, saya menyempatkan diri untuk melihat keahlian seorang bapak tua yang lihai memainkan kuasnya di atas sehelai kertas, menggambar simbol-simbol dan huruf cina. Selain itu, ada juga pertunjukan wayang petehi yang sangat seru! Saya bahkan sempat memberanikan diri untuk diramal oleh peramal tua yang sudah ompong tetapi berhasil membuat saya malu karena hampir semua ramalannya benar. Saat lapar, ngga perlu khawatir. Semarang juga punya tempat asik untuk dikunjungi.
•    The Hills
Café ini terletak di Bukit Baladewa Semarang. Tempat ini sangat terkenal. Tidak hanya menyajikan menu yang menarik, tempat ini juga bisa memanjakan mata dan pikiran. Jika ingin berkunjung, lebih baik saat malam hari karena pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Semarang akan tampak sangat cantik dari café ini. Suasana café pas sekali untuk berkhayal dan menulis. Apa lagi sambil ditemani oleh grilled salmon, mashed potato, dan sausage mustard.

The Hills

Grilled Salmon from The Hills


SURABAYA

Sampailah kita di ibu kota Jawa Timur, Surabaya. Kota ini memang panas banget kalau siang. Tapi jangan sedih, biarpun panas, Surabaya tetap menyenangkan kok untuk dijelajahi. Banyak tempat menarik yang bagus banget untuk dijadiin lokasi hunting fotografi. Ada jembatan Suramadu, masjid Ceng Ho, Extrem Sport Arena, Ciputra Little Singapore, dan lain-lain. Ngomongin soal Ciputra, dia hebat banget lho bisa mengubah setengah kota Surabaya jadi lebih indah! Kalau kalian main ke sana, pasti akan terasa seperti di Singapore. Pedestrian yang dilindungi pohon-pohon besar, rumah-rumah indah, foodcourt dan food plasa yang dipenuhi dengan café-café keren. Tapi kali ini saya ngga akan me-review tentang café dan resto yang berada di dalam food plasa Little Singapore. Ada beberapa tempat yang lebih fenomenal dan wajib untuk dikunjungi.
•   Zangrandi
Zangrandi ini bukan sembarang café. Buat yang tinggal di Surabaya atau pernah beberapa kali ke Surabaya, pasti tau tempat ini. Yak, café ini menyediakan berbagai macam es krim beraneka rasa dan bentuk. Yang istimewa, café ini berdiri sejak 1930. Ngga heran kalau bangunan café ini kelihatan kuno sekali. Zangrandi berlokasi di Jl. Yos Sudarso, di samping Garden Palace Hotel. Kalau ngga sempat ke café pusatnya, Zangrandi juga membuka booth di berbagai tempat di Surabaya, seperti di Tunjungan Plasa dan di Citishop. Tapi, jelas kurang nikmat kalau ngga merasakan suasana kuno café pusatnya. Yang menjadi menu andalan Zangrandi adalah noodle ice-nya.  Ngga cuma itu sih, Ice cream macedonianya juga dahsyat! Bentuk es krimnya bulat tapi di atasnya dibentuk V dan ceruknya tuh jadi tempat rhum. Rhum yang ditambahkan semakin menyegarkan rasa ice cream. Sayang sekali kalau dilewatkan!

Zangrandi

noodle ice cream from zangrandi

Me at Zangrandi Citishop with Macedonia

•    House of Sampoerna Café
Kalian semua tau kan siapa salah satu orang terkaya di Indonesia? Kalau jawaban kalian adalah pemilik brand Sampoerna Indonesia berarti kalian benar! Dan ternyata, produk dari Sampoerna itu sendiri ngga cuma rokok, lho. Mereka juga memproduksi barang-barang sandang seperti pakaian, dompet, tas dan sebagainya. Nah, ngga heran kan Sampoerna bisa sangat berkembang? Untuk mengabadikan perkembangan Sampoerna, sang pemilik membangun House of Sampoerna di Surabaya. Tempat tersebut terdiri dari museum, boutique, mini pabrik (di sini kita bisa melihat proses pembuatan rokok!), galleri pameran seni rupa dan café. Sangat lengkap, kan? Kalau kalian mampir ke sana, saya sarankan untuk jalan-jalan mengelilingin areal komplek House of Sampoerna dulu, setelah lelah, baru kalian bisa beristirahat dan menikmati sajian lezat di café. Yang menjadi menu andalan café Sampoerna adalah sop buntut goreng. Bumbu yang membalut daging buntutnya nikmat sekali!

Cafe House of Sampoerna

Sop Buntut Goreng

Me at House of Sampoerna

BALI
Akhirnyaaaa!!! Sampai juga kita di Bali, the island of God! Yea, true. Berapa kali liburan ke pulau ini juga ngga akan bosen deh pasti. Ngga cuma panoramanya yang memikat hati, tapi juga kebudayaan lokalnya yang masih sangat dijaga. Wajar sekali ya kalau teman-teman saya dari Negara lain pun berlomba-lomba untuk bisa liburan ke pulau ini. Banyak sekali pilihan keelokan panorama yang disuguhkan Bali. Dari mulai pantai pasir putih, pantai dengan tebing dan karang, pegunungan, lereng dan lembah dengan pepohonan hijau, sampai air terjun di tengah hutan pun ada! Yang pasti semuanya bikin saya selalu ingin kembali ke sana. Jalan-jalan menikmati keindahan Bali ngga cukup dengan panoramanya saja, tetapi harus mencoba kulinernya juga.
•    Indus Resto
Resto ini adanya di Ubud. Buat kalian yang pernah ke sana, pasti tau tempat ini. Indus adalah salah satu resto paling terkenal di Ubud. Selain menyediakan makanan enak, panoramanya juga luar biasa! Dari Indus, kita bisa melihat jajaran pepohonan rindang yang menhiasi lembah. Ada beberapa konsep tempat yang ditawarkan oleh Indus. Kita bisa duduk-duduk di dalam ruangan dengan dekorasi klasik yang menawan, atau seperti kesukaan saya, duduk-duduk di beranda belakang resto yang terbuka sambil menikmati angin sore. Coba kalian bayangkan, saat sore hari berada di beranda yang terbuka, menikmati hijaunya lembah sembari menimati squid salad yang menjadi salah satu menu andalan Indus Resto. Nikmat tiada tara!

Indus resto

Squid Salad from Indus

•    Papa’s Café
Enjoying the sunset on the shores of Kuta, while talking casually with someone special accompanied by beers and delicious foods. Can u imagine how great is that? Ah yea, we can only get that kind of feel only at Papa’s Café Legian, Bali. Ngga ada yang bisa ngalahin atmosfer café ini. Saya juga ngga bisa ngomong banyak lagi tentang Papa’s karena sampai detik ini I’m so much happier to keep that place on my memories. Tapi saya tetap akan kasih tentang menu fenomenal di café ini. Saat saya berkunjung, saya memesan kintamani volcano pizza. Saya penasaran aja sih sama bentuknya. Saat disajikan, bener-bener bikin saya kaget. Roti tepung yang menggembung menutupi pizza harus dibakar dulu sebelum dimakan. Keren, deh! Saya agak norak sih waktu liat. Hahaha. Saat itu saya mikir, mungkin cuma tampilannya saja yang menarik. Rasanya belum tentu. Biasanya juga seperti itu, kan? Tapi ternyata saya salah! Café ini tidak hanya mengedepankan penampilan, tetapi juga rasa. Kintamani volcano pizza yang saya pesan juga sangat enak! Toppingnya terdiri dari beef ham, sausage, and beef salami, with mozzarella cheese and tomato based sauce. Pizzanya yang tipis dan chewy justru menambah keistimewaan saya malam itu. Sungguh, ini baru surga dunia!

Papa's Cafe

Pizza membara

inside the volcano pizza