"Catch a star and put it in your pocket, never let it fade away."

Month: April, 2010

Kesalahan Lagu Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini, industri musik Indonesia mulai berkembang pesat. Tapi tunggu dulu, yang saya maksud dengan perkembangan di sini adalah secara kuantitas. Kalau kalian tanya masalah kualitas, saya sendiri juga ngga yakin.
Banyak sekali band atau penyanyi Indonesia bermunculan dengan aliran dan gaya yang berbeda-beda, dari yang keren banget sampe yang aneh banget. Dari band semacam The Tress and The Wild, sampai ASBAK band (God dammit! Why they didn’t find any other name?).
Berhubung saya sering berkecimpung di dunia tulis-menulis, saya suka gregetan kalau denger lagu Indonesia yang berlirik atau berjudul salah. Ya, saya memang bukan penulis handal yang ngerti semua peraturan dan kaidah bahasa Indonesia, tapi terkadang penulis lagu Indonesia memang suka keterlaluan. Lagi pula, nyela orang lain memang paling seru, ‘kan? ;p

Lets start talking about one of the most multitalented singer in Indonesia. He absolutely can sing beautifully. He has good sense of music. And he can do the plastic surgery! Yes, he’s a doctor also. Give your biggest applause for Mr. Tompi! Yeeeeaaaahhhh…

Siapa yang ngga tau Tompi, ngacung! Oh, man! Punya TV ngga sih di rumah? Hahaha, am kidding! Ok, banyak dari lagu dia yang jadi top request di radio-radio dan acara musik di TV. Lets say, “Selalu Denganmu”, “Arti Hadirmu”, “Bintang Jatuh”, “Tak Pernah Setengah Hati”, dan masih banyak lagi. Tapi, ada satu lagu ciptaannya yang dari awal muncul sudah bikin saya gregetan. Tau lagu dia yang “menghujam jantungku”? Mungkin kalian ngga sadar di mana letak kesalahan lagu ini. Atau ada yang dongkol juga seperti saya?  Gini, Tompi itu ‘kan seorang penulis lagu yang banyak disanjung orang karena dia juga seorang dokter, tapi masa bikin JUDUL aja salah?

Jelas sekali bahwa dalam Tesaurus Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Om Eko Endarmoko di halaman 240, yang benar adalah “menghunjam”, bukan “menghujam”.
Sepertinya dokter Tompi sedang banyak pasien saat membuat lagu ini. Konsentrasinya jadi terbagi.

dr. Tompi

Berikutnya yang jadi sasaran empuk untuk dikritik adalah salah satu band anak muda yang sedang meraup ketenaran. Bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena anggota-anggotanya yang kontroversial. Dua dari empat personelnya pernah jadi sasaran wartawan-wartawan infotainmen akibat foto-foto seksi mereka yang tersebar di internet, lho! Ngga cuma itu, wartawan-wartawan juga sempat gemes cari kebenaran kabar yang mengatakan bahwa vokalisnya akan dikeluarkan dari band karena suaranya jelek! Hahaha. Yep, they are VIERRA!

Kalian yang sering dengerin radio atau nonton acara musik di TV pasti sering banget denger lagu mereka yang berjudul “Rasa Ini”. Bohong kalau bilang engga! Lagi-lagi, mungkin kalian ngerasa ngga ada yang salah dengan lagu ini. Apa lagi kalau denger melodinya yang sendu bikin ngantuk. It’s a real guilty pleasure, rite? But wait, you should pay attention to the lyrics carefully.

RASA INI

ku tak percaya kau ada disini
menemaniku di saat dia pergi
sungguh bahagia kau ada disini
menghapus semua sakit yang kurasa

mungkinkah kau merasakan
semua yang ku pasrahkan
kenanglah kasih..

Reff :
ku suka dirinya, mungkin aku sayang
namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
kau pernah menjadi , menjadi miliknya
namun salahlah aku, bila ku pernah merasa ini

na nana nanana nana nanana

back to *  , Reff
(http://musiklib.org/Vierra-Rasa_Ini-Lirik_Lagu.htm)

Mari kita gunakan ilmu bahasa Indonesia kita. Tentu kita semua sudah pernah diajarkan tentang kata ganti orang, ‘kan? Nah, terapkanlah pada lirik ini, niscaya kalian akan menemukan kejanggalan yang keterlaluan. Dalam lirik ini hanya terdapat tiga kata ganti, yaitu ‘aku’, ‘kau’, dan ‘dia’ atau ‘-nya’ jika merujuk pada kepemilikan.
Vokalis dalam band ini memang perempuan, tetapi penciptanya tak lain dan tak bukan adalah si Kevin yang merangkap sebagai pianis. Tetapi hal tersebut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh pada point of view lirik tersebut. Mau dinilai dari sudut pandang laki-laki atau perempuan ya sama-sama aneh. Saya sendiri jadi bingung, sebenernya Kevin memang dapet nilai merah dalam pelajaran bahasa Indonesia atau dia dan Widi (vokalis) memang mau membuat pengakuan bahwa mereka homoseksual?

Vierra

Haaaah, sepertinya bukan cuma penulis buku saja yang butuh editor. Penulis lagu pun butuh rupanya. Jadi, mba-mba dan mas-mas penulis lagu, ada yang sedang butuh editor? Just leave comments on this blog. I’m ready to be a good one ;p

Lelaki Tua Bersahaja

Lelaki itu tampak lebih muda dibanding umumnya orang lain seusianya. Rambutnya, meski tak lagi lebat, baru sebagian yang memutih. Raut mukanya terbilang tirus, namun belum banyak kerut. Jenggot dan kumisnya tak begitu panjang, tak terurus. Tubuhnya memang tidak kekar, tapi masih tegap dan sehat karena olah raga yang rutin dijalaninya.

Barang kali dialah orang kaya paling sederhana yang pernah saya kenal. Penampilannya kalem, sikapnya santun, dandanannya bersahaja. Ia punya banyak uang, kata orang, tapi ke mana-mana cukup mengendarai mobil Kijang tua. Saya pernah melihatnya mengenakan kaca mata dengan gagang yang patah sebelah. Kacang bawang dan kerupuk kampung adalah makanan kesukaannya.

Kadang kala di halaman kantornya yang serupa ruko, saya melihatnya melangkah pelan dengan segepok buku dalam jinjingan. Sesekali saya mendapatinya sedang duduk di kedai kantor, dikelilingi sejumlah anak muda yang tampak antusias dan khusyuk berdiskusi dengannya. Pernah juga saya melihatnya sedang menulis dengan laptop, membaca buku, atau sekedar duduk terkantuk-kantuk. Saya bayangkan, alangkah lelah sepasang mata tua itu, sepasang mata yang jarang terpejam dan lebih sering berkelana di sesela aksara.

Tapi bukan karena semua itu orang mengenal dan menghormatinya. Ia lebih dikagumi karena pemikirannya yang cerdas dan pandangannya yang jernih, sebagaimana tercermin dalam karya-karyanya. Ia seorang penyair dan jurnalis terkemuka.

Sebagai penyair, ia telah menghasilkan cukup banyak puisi liris yang menebarkan pengaruh kuat dan luas pada khazanah sastra Indonesia. Dan sebagai jurnalis, ia telah membuktikan kepiawaiannya dengan merintis sebuah majalah mingguan berita hingga mekar menjadi media massa terpenting yang mengembangkan gaya penulisan naratif dan menyuburkan pertumbuhan bahasa. Karena itu, ia tak hanya dihormati, tapi juga dianugerahi begitu banyak penghargaan di dalam dan luar negeri.

Kemahsyuran tak membuatnya busung dada. Puncak-puncak prestasi tak menjadikannya tinggi hati. Puja dan cela seolah tak mampu mengubahnya. Ia tetap sebagai sediakala, sejak saya mengenalnya: Lelaki tua yang bersahaja.

Die, Baby, Die!!!

Akhir-akhir ini, saya ngga banyak melakukan hal-hal yang berguna. Aktifitas saya sehari-hari cuma buang-buang waktu. Ngga produktif. Well, kecuali weekend saya masih ngajar kelas creative writing di sebuah art school di Jakarta. Itu juga ngga bisa dibilang produktif kan? Wong ngga menghasilkan karya kok, cuma duit aja as my salary. Menurut saya yang namanya produktif itu ya menghasilkan karya, bukan duit. Saya tau, orang-orang terdekat saya mulai ngeluh soal keadaan saya yang gini-gini aja. Bukannya ada progress malah regress, setback, kaya orang mau mati! Tiap hari kerjaannya bengong-bengong, nunda-nunda kerjaan project, pegangan BB terus. Saya juga sadar kalo mereka sedih banget ngeliat saya yang kaya gini. Mereka memang ngga ada habisnya support saya tiap waktu. “Kamu tuh multitalented. Bisa nulis, bisa design, bisa nyanyi, bisa fotografi. Tapi kalo ngga ada yang kamu seriusin ya percuma! You’re already 21. If you keep on like this, you’ll absolutely be nobody. Apa susahnya focus sama satu hal?” Katanya, mereka ngomong kaya gitu karna mereka sayang sama saya. Tapi percayalah, setiap mereka ngebahas keadaan saya, I feel a bit depressed.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa penyebab saya jadi seperti ini. Sikap saya yang seperti ini terjadi setelah saya ngerasa masalah datang bertubi-tubi. Dari mulai yang sepele, sampai yang menurut saya berat sekali. Dari masalah percintaan tai kucing, pertemanan ngga penting, kuliah, keluarga, masa depan, semua tumplek jadi satu! Intinya, masalah-masalah tersebut cukup bikin saya agak ngerasa capek sama hidup. Cukup membuat saya percaya sama absurdity-nya Albert Camus. Semua berasa absurd, ngga jelas, ngga karuan. Yang menarik perhatian saya, menurut Camus, ada tiga macam respon manusia terhadap keabsurdan hidup. Yaitu pengakuan akan keabsurdan, loncatan iman, dan bunuh diri.
Saya jelas memenuhi poin yang pertama. Ini bukan lagi mengakui tapi sudah pada tahap mengimani. Sekarang ini saya ngerasa, apa yang terjadi sama hidup saya semuanya absurd! Saya mulai ngga bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk, siapa kawan siapa lawan. Yang tadinya saya pikir baik-baik aja, ternyata udah rusak semua. Yang tadinya saya pikir akan selalu ada buat saya, ternyata omong kosong.

Dari poin pertama tadi, akhirnya menimbulkan efek ke poin 2. Saya jadi mulai kurang bisa mengimani beberapa hal, kecuali keabsurdan itu tadi. Belakangan, saya jadi kurang percaya sama orang lain. Sudah beberapa kali saya merasa ditipu. Tadinya, saya percaya bahwa saya harus berbuat yang terbaik untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Ah tapi ternyata itu bikin saya capek dan sakit hati sendiri. Toh nyatanya mereka belum tentu ada kalau saya butuh mereka. Bohong kalau ada manusia yang kelewat ikhlas, ngga mengharapkan imbalan. Akhirnya saya janji sama diri saya sendiri untuk ngga terlalu terlena sama orang-orang yang minta simpati dari saya. Persetan. Urus aja sendiri masalahmu, ngga usah minta tolong sama saya. Loncatan iman saya ngga sebatas masalah sosial aja. Dalam hal kepercayaan pun saya mulai mengalaminya. Dulu, saya rajin menjalankan tugas-tugas agama, termasuk ngaji dan sholat. Tapi seiring berjalannya waktu, saya ngeliat realita bahwa terkadang agama justru bikin susah. Orang-orang pada ribut cari masalah dengan alasan agama. Saya pernah sakit hati sama beberapa orang yang saya kenal, yang mengaku dirinya taat beragama. Cuma karena saya mulai ngga rajin sholat lima waktu, mereka seenaknya ngomongin saya seolah-olah saya anak yang bejat. Ngga cuma itu, kadang mereka-mereka yang ngaku taat beragama justru sering ngomongin keburukan orang lain tanpa mereka sadari, ya contohnya ngomongin saya itu. Mereka juga kurang memiliki kepedulian sama temen sendiri. Jadi apa gunanya sih taat beragama? Mau jadi manusia yang lebih baik atau mau cari ribut?

Dan sepertinya saya pun mulai menjalankan poin 3. Camus bilang, bunuh diri adalah sebuah pelarian total. Dengan sikap saya yang seperti ini, saya merasa saya sedang bunuh diri. Saya mulai tidak bisa mengerjakan apa-apa. Ya, sebentar lagi saya mati.

Suicide by PauTower